BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Keluarga adalah lembaga yang
paling dasar. Defenisi ini agaknya masih sangat luas artinya dan belum begitu
dapat memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya keluarga itu, maka perlu
kita sajikan pendapat Ogbrun (1979: 602) yang mengatakan bahwa : when we think of a family we picture it a
more or less durable association of husband and wife with or without children,
or of man or woman alone with childeren, yang artinya kurang lebih sebagai
berikut: Keluarga adalah persekutuan antara suami istri dengan atau tanpa anak,
atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang telah sendirian dengan
anak-anaknya.
Dari pendapat yang kedua
ini, kita lebih mendapatkan kejelasan arti dari pada keluarga, Didalam keluarga
banyak bentuk-bentuk keluarga yang belum kita ketahui.
1.2.Rumusan Masalah
·
Macam-macam
dan bentuk keluarga
·
Membedakan
tipe yang ada dimasyarakat
·
Pengaruh
karakteristik keluarga terhadap pendidikan anak
1.3.Tujuan
·
Memenuhi
Tugas Konseling Keluarga
·
Mengetahui
Macam-macam dan bentuk keluarga
·
Dapat
Membedakan tipe yang ada dimasyarakat
·
Mengetahui
Pengaruh karakteristik keluarga terhadap pendidikan anak
BAB II
PEMBAHASAN
Bentuk Keluarga
Setelah kita ketahui bahwa keluarga adalah merupakan
ikatan sosial yang kecil, dan merupakan lembaga dalam masyarakat yang paling
dasar, maka dapat di maklumi bahwa di dalam masyarakat akan dapat banyak sekali
keluarga, yang tentu saja tiap-tiap keluarga akan mempunyai ciri-ciri khusus
yang berlainan satu dengan yang lainya.
Agar supaya
kita mempunyai pengetahuan yang luas tentang seluk beluk keluarga, maka kita
perlu mengetahui bentuk-bentuk, jenis-jenis dan tipe kelurga yang terdapat
dalam masyarakat, seperti yang telah di kemukakan oleh Horton and Hunt (
1968:215) beliau menjelaskan adanya tipe keluarga, antara lain sebagai berikut
:
1.
Keluarga
Inti (Nuclear family atau Conjugal family atau Basik family) adalah keluarga yang terdiri
suami, isteri dan anak-anak mereka.
2.
Keluarga
Besar (Exentended family atau Consanguine
family atau joint family) adalah keluarga yang tidak hanya terdiri dari
suami, istri, dan anak-anak mereka, melainkan termasuk juga orang-orang yang
ada hubungan darah dengan mereka, misalnya kakek,nenek, paman, bibi, keponakan dan sebagainya.
3. Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga
yang terdiiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan
merupakan satu keluarga inti.
4. Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah
keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5. Keluarga berkomposisi (Composite) adalah
keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
6. Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua
orang yang terjadi tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
Adakalanya
Counsenguine Family ini masih
dibedakan menjadi :
1. Consanguine
family yang matrilineal yaitu bahwa yang masuk keluarga adalah kelompok dari
saudara-saudara perempuan dan laki-laki dengan anak-anak dari saudara perempuan
tersebut. Sehingga disini terdapat keadaan laki-laki yang telah kawin
seakan-akan tidak termasuk dalam keluarga si istri beserta anak-anaknya, dan
suami tersebut tetap bersama keluarganya sendiri. Sedang istri berkeluarga
dengan anak-anaknya dan saudara-saudara perempuanya dan saudara-saudara
laki-lakinya beserta anak-anak dari saudara-saudara perempuannya.
2. Consanguine
family yang patrilineal yang merupakan kebalikannya dari consanguine family
yang matrilinal yaitu istri tidak termasuk keluarga suaminya. Suami berkeluarga
dengan saudara-saudara perempuan dengan anak-anaknya sendiri dan
saudara-saudaranya laki-laki beserta anak-anak dari saudara-saudara laki-laki
tersebut.
Semakin
suatu negara itu berkembang dan semakin kompleksnya kebutuhan hidup manusia
maka akan semakin dirasa bahwa extended family kurang praktis, terlebih
extended seperti tersebut diatas mukin
hanya terdapat pada suku-suku bangsa yang masih memegang teguh adatnya.
Sedang
bentuk-bentuk keluarga yang lain, yaitu pendapat MF.Kimhoff and R.middleton
dalam bukunya Types Of Family And Types Of
Economic (1960:215) menyebutkan adanya dua macam tipe keluarga :
1. The
family of Orientation
Yaitu bahwa setiap individu
paling tidak pasti termasuk dalam suatu keluarga yaitu keluarga di mana
individu itu di suatu keluarga di lahirkan, disebarkan, di didik dan di beri
bimbingan dalam mencapai kedewasaan. Ini adalah merupakan lingkungan keluarga
yang pertama, dan setiap orang pasti pernah mengalami menjadi bagian dari
keluarga di mana mereka di lahirkan.
2.
The
family of procreation
Bahwa
individu itu semakin lama akan memisahkan atau melepaskan diri dari lingkungan
yang pertama, yang akan lepas dari ayah ibu karena mereka memasuki dunia
perkawinan, yang selanjutnya akan memiliki keturunan. Keluarga seperti ini
adalah lingkungan keluarga yang yang kedua bagi individu tersebut.
Pada
umumnya keluarga orientasi dan keluarga prokreasi itu mempunyai hubungn yang
sangat erat, walaupun kadang-kadang dalam masyarakat keluarga tersebut sudah
berdiri sendiri, berumah tangga sendiri. Kedua pendapat tersebut diatas,
merupakan bentuk keluarga yang masih sangat umum, maka pada kesempatan berikut
ini akan kami utarakan bentuk-bentuk keluarga lain yang mengkhusus. Mula
pertama pendapat Siti Partini (2000:11) membedakan menjadi dua yaitu :
a. Keluarga
kecil, yaitu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dengan dua anak atau paling
banyak tiga orang anak.
b. Keluarga
besar, yaitu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dan lebih dari tiga orang
anak.
Disamping
mengajukan dua tipe keluarga tersebut beliau juga mengutip dari buku
pendidikankan kependudukan proyek nasional pendidikan kependudukan, Departemen
P & K dan BKKBN Jakarta, yang mengemukakan tentang tipe keluarga sebagai
berikut 1) Keluarga batih,yaitu keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak-anak
yang belum kawin. 2) Keluarga bukan batih, yaitu keluarga yang terdiri satu
atau lebih keluarga batih.
Dalam
kehidupan keluarga memang mempunyai tipe kehidupan yang berlainan di antara
satu dengan yang lainnya. Terhadap cara mendidik anaknya dan juga berpengaruh
bagi perkembangan jiwa ank selanjutnya, bahkan dapat mempengaruhi kebahagiaan
yang akan dicapai oleh keluarga yang bersangkutan. Seperti dikemukakan oleh
Danuri (1999:15) bahwa tipe keluarga dibedakan menjadi enam tipe yaitu :
1. Kelarga
Yang Sibuk
Kehidupan kelarga yang sibuk selalu diikuti oleh
kesibukan semua anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupmnya, ayah dan
ibu bekaerja bahkan anak-anaknya juga ikut bekerja, sehingga orang tua kurang
memperhatikan anank-anaknya.
2. Keluarga
Lemah Wibawa
Orang tua yang berwibawa akan berpengaruh terhadap
sikap dan perbuatan anak-anaknya, begitu jauga sebaliknya orang tua yang tidak
berwibawa atau lemah wibawa. Orang tua yang kurang berwibawa terhadap
anak-anaknya maka anak-anak tersebut
akan berbuat sesuka hatinya sehingga
sering terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dari norma yang di miliki orangtuanya. Dengan
tidak adanya kewibawaan orang tua terhadap anak-anaknya maka pendidikan di
dalam keluarga oleh orang tua tidak dapat berlangsung dengan baik, karena anak
lebih pandai, sehingga tidak memperhatikan nasehat atau saran yang di beikan oleh orang tuanya.
3. Keluarga
Yang Tegang
Susunan keluarga yang tegang dimana hubungan di antara
anggota keluarga yang kurang akrab, kurang adanya kasih sayang bahkan sering kali terjadi ketegangan
hubungan antara ayah dan ibu. Hal ini akan berakibat bagi anak-anak tertanam untuk
memihak ayah atau ibu, dan keluarga tegang ini biasanya
dialami oleh keluarga besar yang ekonominya kurang. Akibat dari keluarga tegang
ini maka pendidikan terhadap anak bersifat keras, sehinga anak akan menjadi
orang yang keras kepala, suka menang sendiri dan sebagainya.
4.
Keluarga
Yang Retak
di
dalam suasana keluarga yang retak, sudah tidak ada keharmonisan antara ayah dan
ibu, tidak ada kesatuan pendapat, sikap dan pandangan terhadap sesuatu yang
dihadapinya. Akibatnya anak-anak akan terlantar, terutama pendidikannya dalam
keluarga, karena tidak jarang anak-anak terpaksa ikut ayah atau ibu tiri
sehinga anak merasa kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya.
5.
Keluarga
Yang Pamer
Kehidupan
keluarga yang senang pamer tidak mempunyai pegangan yang kuat atau ketetapan
hati karena mereka sudah hanyut pada
suasana yang baru, mereka tidak mau dikatakan ketingalan , tetapi yang diikuti
bukan kemajuaan dari arti yang sebenarnya. Mereka menitik beratkan
kemajuan-kemajuan lahiriah yang berupa kemewahan, sedang sepi kerohaniahan
kurang diperhatikan, keluarga yang
senang pamer ini biasanya iri terhadap kekayaan orang lain, dan rasa iri inilah
yang mengakibatkan keluarga jadi tidak tenteram dan menjadi sumber ketegangan di
dalam keluarga.
6.
Keluarga
Yang Ideal
Disinilah
terdapat suasana yang menyenangkan, biasanya dialami oleh keluarga yang tidak
terlalu besar, mutu keluarga tinggi, penghasilan cukup, mempunyai pandangan
hidup beragama yang kuat, hidup sederhana dan adanya saling pengertian di
antara anggota keluarga terutama ayah dan ibu. Dengan demikian cita-cita
keluarga sejahterah lahir dan batinakan dapat terealisir didalam keluarga.
Yang
membagi tepe keluarga dengan tujuan dari berbagai sudut pandangan James (1954 :367) yaitu:
1. Dilihat
dari sudut ukurannya (Size)
a. keluarga
besar (the large family), ialah
keluarga dengan anak lebih dari tiga orng, dan kemungkinan kedua adalah keluarga yang tidak hanya
terdiri ayah, ibu dan anak dan anak
melaikan termasuk didalamnya kakek,nenek,paman,bibi, keponakan dan lain-lain
b. keluarga
kecil (extended family), yang
termasuk keluarga kecil disini, ialah keluarga dengan dua anak atau tiga orang
saja, dan tidak ada anggota lainnya.
2. Dilihat
dai organisasinya (organization):
a. keluarga
bekerja sama (the cooperative family),
yaitu keluarga yang mempunyai kesadfaran untuk kerjasama antara anggota
keluarga, dalam hal ini orang tua memegang peran dalam peraturan, pembagian kerja dalam rangka kerjasama antara
anggota keluarga.
a.
keluarga yang berdiri sendiri (the independent family), yaitu keluarga
yang tidak tergantung kepada keluarga atau orang lain, berarti keluarga
tersebut dapat membereskan segala urusan keluarganya sendiri, mempunyai
penghasilan yang cukup memenuhi kebutuhan keluarganya dan mampu mengurusi
kebutuhan keluarganya.
b. keluarga
yang tidak lengkap (The in conplete
family), yaitu keluarga yang sudah tidak lengkap lagi, ada kemungkinan ayah
atau ibu telah tiada atau cerai dan kemungkinan salah satu atau dari suami atau
istri dalam keadaan mandul, sehingga keluarga tersebut tidak mempunyai
keturunan, kecuali mereka telah mengangkat anak orang lain (adopsi).
3. Dilihat
dari segi kegiatannya (activity):
a. Keluarga
yang berpindah-pindah (The normadis
family) yaitu keluarga yang karena sesuatu hal (biasanya berhubungan dengan
pekerjaan) terpaksa tidak dapat menetap dalam suatu kota ada kemungkinan harus
berpindah-pindah rumah disebabkan belum memiliki tempat tinggal sendiri dan
harus berpindah-pindah rumah apabila kontrak atau sewanya habis.
b. Keluarga
yang suka joint (The joines family), yaitu
keluarga yang mempunyai kegiatan suka bekerja sama dengan keluarga lain dalam
mengerjakan sesuatu misalnya dalam bidang usaha untuk mencari nafkah.
c. Keluarga
yang berpendidikan (The familyn of the
intelligentia), yaitu keluarga yang mementingkan masalah pendidikan atau
kecerdasan bagi setiap anggotanya sehingga keluarga tersebut mementingkan
sekali sekolah bagi anggota keluarganya.
d. Keluarga
yang tinggal di batukarang, didekat pantai (The
chiff-dweller family), didaerah yang berjurang, sehingga mata pencaharian
mereka mengumpulkan benda-benda disekitarnya untuk dijadikan barang-barang
kerajinan, atau peralatan, dapat juga sebagai nelayan, pencari ikan.
e. Keluarga
yang suka berderma atau berbuat bermanfaat bagi masyarakat (The community benefactor family ), mereka
pada umumnya suka menolong, bermurah hati pada tetangga dan orang-orang
lainnya.
4. Dilihat
dari nilai dan tujuannya (Values and
Goals)
a. Keluarga
yang tingkat sosialnya tinggi (The social
climber family) yaitu keluarga yang mempunyai kedudukan tinggi dan
terhormat dalam masyarakat, mungkin karena jabatannya, pendidikannya,
kekayaannya dan sebagainya.
b. Keluarga
yang materialistik (The materialistic
family), yaitu keluarga yang mementingkan harta benda, sehiongga sikap dan
tindakannya serta pandangannya pada harta benda atau kekayaannya.
c. Keluarga
yang agamanya berlebihan (Overly
religious family), yakni keluarga yang sangat mementingkan kehidupan
beragama dalam suasana keluarganya.
d. Keluarga
ilmiah (The The Scientific family),
yaitu keluarga yang sangat mendambakan ilmu pengetahuuan, sehingga sikap,
tindakannya dan pandangannya selalu berorientasi pada hal-hal yang ilmiah.
e. Keluarga
yang suka takhayul (The superstations
family), yaitu keluarga yang masih sangat percaya kepada hal-hal yang
mengandung takhayul, sehingga kehidupan keluarganya tersebut penuh dengan
tradisi yang kurang masuk akal.
f. Keluarga
yang masih kuno (The conventional family),
yaitu keluarga yang masih mengikuti adat kuno, belum dapat meninggalkan
kebudayaan yang tradisional dan kurang mengikuti kebiasaan modern.
Tipe Keluarga Khususnya di indonesia
1.
Tipe
keluarga bangsawan
Tipe
keuarga bangsawan yaitu dimana keturunan raja-raja atau pangeran masih memegang
teguh sekali tingkat kebangsawanan yang dimiliki. Mereka masih ,merasa tidak
sama dengan masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki titel kebangsawanan. Ada
kalanya titel kebangsawanan itu dijadikan bahan pertimbangan dalam perkawinan,
perkawinan hendaknya terdiridari calon suamimi isteri yang titel
kebangsawanannya sejajar, agar supaya salahsatu dari mereka tidak kehilangan
titelnya.
Pria
yang memiliki titel kebangsawanan tinggi boleh kawin dengan wanita yang
titelnya lebih rendah, dan akhirnya wanita akan terangkat oleh titel suaminya,
demikianpula anak-anaknya akan memperoleh titel sebagaimana titel ayahnya.
Tetapi sebaliknya kurang disejui seorang wanita kurang disetujui seorang wanita
bertitel tinggi kawin dengan pria bertitel lebih rendah, karena sipria tidak
dapat ditingkatkan titelnya oleh si wanita, bahkan untuk selanjutnya anak-anaknya
pun tidak berhak memakai titel ibunya, mereka hanya memakai titel ayahnya yang
lebih rendah dari ibunya.
- Tipe keluarga saudagar
Tipe keluarga ini bukan soal kepangkatan, gelar/titel, melainkan pada
kekayaan. Pada umumnya keluarga ini bukan pegawai negeri, melainkan sebagai
orang swasta, pengusaha, pedagang dan pemilik perindustrian dan lain-lain.
Daaalam hidupnya mereka gigih berjuang untuk mengumpulkan harta benda
sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang mereka tidak/kurang berpendidikan, terutama
pendidikan tinggi, tetapi mereka memiliki strategi yang cukup baik dalam hal
bisnis. Nmereka tidak begitu memahami akan pendidikan, gelar kesarjanaan dan
kedudukan, karena hal itu tidak menjamin dapat mendatangkan hasil yang baik.
Mereka lebih mengagumi akan orang-orang yang usahanya meningkat dana kekayaanya
bertambah.
Status ekonomi sering dijadikan pertimbangan dalam perkawinan. Mereka
selalu mengusahakan agar perkawinan selalu terjadi antara tipe keluarga
sejenisnya dengan maksud agar kekayaannya tidak jauh pada orang/keluarga bukan
saudagar. Sehinga banyaknya perkawinan sering ditentukan oleh orang
tua/keluarganya. Calon yang bersangkutan tinggal menerima pilihan dari
keluarganya, bahkan sering terjadi perkawinan antara keluarga dekat (keluarga
saudagar), dan efek atau akibat negatifnya sering keturunannya mengalami cacad
tubuh maupun mental dikarenakan oleh perkawinan antara orang-orang yang
memiliki hubungan darah terlalu dekat.
Tradisi seperti ini sudah dikikis oleh generasi muda dari golonannya
sendiri, keturunan mereka kadang-kadang tidak lagi mau menertima atau melakukan
tradisi itu. Mereka sering bepindah haluan untuk mencapai gelar sarjana dan
tidak melanjutkan pekerjaan/profesi orang tuanya, dan mereka memilih
pasangannya berdasarkan rasa cinta dan kecocokan. Tipe keluarga ini tidak hanya
sampai taraf anak-anaknya, melainkan sampai dapa cucu-cucu, kemenakan atau
keluarga dekat lainnya. Mereka sangat bekerjasama dalam hal bisnis antara
keluarga, dalam rangka memberikan bimbingan pada keluarganya.
3.
Tipe
Keluarga Petani
Tipe keluarga ini sangat mengutamakan
pekerjaan bertani, pekerjaan-pekerjaan yang lain terasa kurang sesuai dengan
dirinya. Biasanya keluarga ini menghendaki keturunannya bekerja sebagai petani,
pendidikan dianggap kurang penting, sekolah dianggap menghabiskan biaya saja,
sedang buah yang dipetik dari sekolah masih sangat lama dan jauh dapat dicapai.
Mereka pada umumnya mementingkan tempat tinggal (papan), sehingga kebanyakan
petani mementingkan untuk membuat rumah yang megah, bbesar dan bagus. Tetapi
kadang-kadang tidak mementingakan sandang dan pangan, mereka lebih lebih suka
untuk berpakaian dan makan secara sederhana, tetapi memiliki rumah sedemikian
rupa. Ukuran kesuksessan mereka dilihat dari wujud rumah dan banyaknya panenan
padi. Kebiasaan seperti ini telah terkikis oleh generasi mudanya, dimana
mereka bersikeras melanjutkan pelajaran sampai tuntas dan akhirnya nanti
mencari pekerjaan lain dalam masyarakat.
Kebanyakan dari pemudanya tidak tahu-menahu dalam pekerjaan sawahnya
sendiri melainkan dekerjakan oleh petugas-petugas bayaran ataupun memakai
sistem bagi dua, pemilik hanya mendapatkan hasil separohnya untuk yang
mengerjakannya.
4.
Tipe
Keluarga Intelek
Tipe keluarga
ini jelas mendambakan intelektualitas
ataupun pendidikan. Keluarga ini menghendaki keturunananya dapat
mencapai pendidikan setinggi-tingginya, gelar sarjana menjadi batas minimum
dari tingkat pendidikan bagi keluarganya. Mereka akan sangat kecewa bilaad dari
anaknya gagal dalam studinya, misalnya gagal dalam melanjutkan studi ke
perguruan tinggi, atau gagal dalam mencapai sarjana.
Tentu saja merekapun menghendaki pasangan
dari anaknya juga seorang sarjana. Mereka akan bangga apabila pembicaraan/
situiasi rumah selalau bernafaskan hal-hal ilmiah. Mereka sangat mementingkan
gengsi dan harga diri. Sebagai konskwensinya mereka selalu korek dalam segala
hal, misalnya dalam bertingkah laku dan bertutur kata, karena mereka yakin akan
selaluberusaha untuk dapat menyumbangkan pikirannya dalam masyarakat. Biasanya
mereka sangat mementingkan masalah sandang, pangan dan papan, khususnya dalam
mendidik putra putrinya, karena mereka akan sangat terkena malu apabila ada
keluarganya yang tercela dalam masyarakat.
Dan biasanya
predikat intelek ini akan selalu di sangkut pautkan dengan apa saja olh
masyarakat, misalnya caranya berpakaian sangat intelek, bicaranya intelek, tata
laksana rumah tanggannya tanpak kalo orang intelek dan lain-lain. Sehingga bagi
tipe ini akan sangat memperhatikan dalam segala bidang kecuali intelektualita
juga etika maupun estetika.
5.
Tipe
Keluarga Pegawai Negeri
Tipe keluarga
ini merasa bahagia menjadi pegawai Negri, apapun yang dijabatkan,baik yang
telah berpangkat tinggi adapun rendah. Mereka merasa hidup tentram sebagai
pegawai negri, mereka tidak Harus memutar otak untuk mendapatkan nafkah untuk
hari ini atau esok. Merasa terjamin kehidupannya, baik hidupnya sekarang
ataupun yang akan datang. Mereka sudah dapat membuat perencanaan dengan hasil
yang di terimanya setiap bulan. Mereka dapat mengusahakan atau mengetahui
tentang kenaikan pangkatnya, tentang kenaikan gajinya. Keluarganyapun
mendapatkan tunjangan dari pemerintah.
Andaikata mereka
berwiraswasta itu sekedar sebagai tambahan hasil saja, sehingga mereka akan
melaksanakan wiraswasta dengan hati tentram, karena itu bukan merupakan
pencarian pokok. Mereka slalu mengidam-ngidamkan anaknya pun menjadi pegaswai
negriserta kawin dengan pegawai negri. Pegawai negri menjadi tipe ideal bagi
keluarga tersebut. Walaupun kadang-kadang sebagai pegawai negri mereka harus
hidup sederhana sesuai dengan penghasilan yang di terima setiap bulannya, dan
harus selalu menyesuaikan diri dengan harga-harga yang ada.
Biasanya seorang pegawai Negri akan selalu meningkat walaupun secara
lambat, mengenai tempat tinggal terpaksa belum memiliki, pemerintah akan turun
tangan untuk membantunya, misalnya dengan adanya perumahan dinas , perumnas,
dan perumahan murah yang lain. Sehingga betul bagi keluarga yang tidak
menghendaki kemewahan yang berlebihan, akan cukup sebagai keluarga pegawai negri.
Maka dengan lima tipen keluarga yang kami ajukan ini, kami rasa telah
cukup banyak tipe-tipe/jenis-jenis keluarga yang pada umumnya ada dalam
masyarakat yang kami perkenalakan pada segenap pembaca. Sehingga para pembaca
dapat mencek dirinya sendiri termasuk tipe keluarga yang bagaimana.
BAB
III
PENUTUPAN
3.1. Kesimpulan
Setiap keluarga mempunyai ciri khusus yang berlainan
antara satu dengan yang lain yaitu keluarga yang sibuk, keluarga lemah wibawa,
keluarga yang tegang, keluarga yang retak, keluarga yang pamer, dan keluarga
yang ideal, dari tipe itu akan sangat berpengaruh terhadap cara mendidik
anaknya dan juga berpengaruh bagi perkembangan jiwa anak selanjutnya, bahkan
dapat mempengaruhi kebahagiaan yang akan dicapai oleh keluarga yang bersangkutan
dan akan berpengaruh juga bagi perkembangan anak selanjutnya.
3.2. Saran
Apapun jenis dan karakteristik keluarga hendaklah
mementingkan keutamaan bagi perkembangan seorang anak, karena keluarga adalah
pendidikan paling utama dan pertama sebagai salah satu faktor terpenting dalam
pembentukan karater.
“Harta paling berharga adalah keluarga dan istana
termegah adalah keluarga”.
Keluarga seharusnya bisa memberi arahan-arahan yang
baik agar terjadi hubungan yang baik pula.
DAFTAR PUSTAKA
DR. Hj. Siti Hartinah DS, MM. 2009. Konseling
Keluarga Badan Penerbitan Tagal : Universitas Pancasakti
Riadi, Muklisin. 2012. Pengertian
Keluarga. http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk-keluarga.html#ixzz2O4EG1HiW
Mantaaaappss
BalasHapusmbaa q mintaa ya buat dokumenn
BalasHapusbermanfaat banget nih...
BalasHapusthanxs
ane comot ya :)
saktiiii banget, makasih banyak ya tulisannya..
BalasHapusngebantu banget