Rabu, 01 Mei 2013

Makalah Bentuk-Bentuk Keluarga


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Keluarga adalah lembaga yang paling dasar. Defenisi ini agaknya masih sangat luas artinya dan belum begitu dapat memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya keluarga itu, maka perlu kita sajikan pendapat Ogbrun (1979: 602) yang mengatakan bahwa : when we think of a family we picture it a more or less durable association of husband and wife with or without children, or of man or woman alone with childeren, yang artinya kurang lebih sebagai berikut: Keluarga adalah persekutuan antara suami istri dengan atau tanpa anak, atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang telah sendirian dengan anak-anaknya.
Dari pendapat yang kedua ini, kita lebih mendapatkan kejelasan arti dari pada keluarga, Didalam keluarga banyak bentuk-bentuk keluarga yang belum kita ketahui.
1.2.Rumusan Masalah
·         Macam-macam dan bentuk keluarga
·         Membedakan tipe yang ada dimasyarakat
·         Pengaruh karakteristik keluarga terhadap pendidikan anak
1.3.Tujuan
·           Memenuhi Tugas Konseling Keluarga
·           Mengetahui Macam-macam dan bentuk keluarga
·           Dapat Membedakan tipe yang ada dimasyarakat
·           Mengetahui Pengaruh karakteristik keluarga terhadap pendidikan anak
BAB II
PEMBAHASAN
Bentuk Keluarga
Setelah kita ketahui bahwa keluarga adalah merupakan ikatan sosial yang kecil, dan merupakan lembaga dalam masyarakat yang paling dasar, maka dapat di maklumi bahwa di dalam masyarakat akan dapat banyak sekali keluarga, yang tentu saja tiap-tiap keluarga akan mempunyai ciri-ciri khusus yang berlainan satu dengan yang lainya.
   Agar supaya kita mempunyai pengetahuan yang luas tentang seluk beluk keluarga, maka kita perlu mengetahui bentuk-bentuk, jenis-jenis dan tipe kelurga yang terdapat dalam masyarakat, seperti yang telah di kemukakan oleh Horton and Hunt ( 1968:215) beliau menjelaskan adanya tipe keluarga, antara lain sebagai berikut :
1.      Keluarga Inti (Nuclear  family atau Conjugal family atau Basik family) adalah keluarga yang terdiri suami, isteri dan anak-anak mereka.
2.      Keluarga Besar (Exentended family atau Consanguine family atau joint family) adalah keluarga yang tidak hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak mereka, melainkan termasuk juga orang-orang yang ada hubungan darah dengan mereka, misalnya kakek,nenek, paman,  bibi, keponakan dan sebagainya.
3.      Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4.      Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5.      Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
6.      Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

Adakalanya Counsenguine Family ini masih dibedakan menjadi :
1.      Consanguine family yang matrilineal yaitu bahwa yang masuk keluarga adalah kelompok dari saudara-saudara perempuan dan laki-laki dengan anak-anak dari saudara perempuan tersebut. Sehingga disini terdapat keadaan laki-laki yang telah kawin seakan-akan tidak termasuk dalam keluarga si istri beserta anak-anaknya, dan suami tersebut tetap bersama keluarganya sendiri. Sedang istri berkeluarga dengan anak-anaknya dan saudara-saudara perempuanya dan saudara-saudara laki-lakinya beserta anak-anak dari saudara-saudara perempuannya.
2.      Consanguine family yang patrilineal yang merupakan kebalikannya dari consanguine family yang matrilinal yaitu istri tidak termasuk keluarga suaminya. Suami berkeluarga dengan saudara-saudara perempuan dengan anak-anaknya sendiri dan saudara-saudaranya laki-laki beserta anak-anak dari saudara-saudara laki-laki tersebut.
Semakin suatu negara itu berkembang dan semakin kompleksnya kebutuhan hidup manusia maka akan semakin dirasa bahwa extended family kurang praktis, terlebih extended seperti tersebut diatas  mukin hanya terdapat pada suku-suku bangsa yang masih memegang teguh adatnya.
Sedang bentuk-bentuk keluarga yang lain, yaitu pendapat MF.Kimhoff and R.middleton dalam bukunya Types Of Family And Types Of Economic (1960:215) menyebutkan adanya dua macam tipe keluarga :

1.      The family of Orientation
Yaitu bahwa setiap individu paling tidak pasti termasuk dalam suatu keluarga yaitu keluarga di mana individu itu di suatu keluarga di lahirkan, disebarkan, di didik dan di beri bimbingan dalam mencapai kedewasaan. Ini adalah merupakan lingkungan keluarga yang pertama, dan setiap orang pasti pernah mengalami menjadi bagian dari keluarga di mana mereka di lahirkan.
2.      The family of procreation
Bahwa individu itu semakin lama akan memisahkan atau melepaskan diri dari lingkungan yang pertama, yang akan lepas dari ayah ibu karena mereka memasuki dunia perkawinan, yang selanjutnya akan memiliki keturunan. Keluarga seperti ini adalah lingkungan keluarga yang yang kedua bagi individu tersebut.
Pada umumnya keluarga orientasi dan keluarga prokreasi itu mempunyai hubungn yang sangat erat, walaupun kadang-kadang dalam masyarakat keluarga tersebut sudah berdiri sendiri, berumah tangga sendiri. Kedua pendapat tersebut diatas, merupakan bentuk keluarga yang masih sangat umum, maka pada kesempatan berikut ini akan kami utarakan bentuk-bentuk keluarga lain yang mengkhusus. Mula pertama pendapat Siti Partini (2000:11) membedakan menjadi dua yaitu :
a.       Keluarga kecil, yaitu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dengan dua anak atau paling banyak tiga orang anak.
b.      Keluarga besar, yaitu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dan lebih dari tiga orang anak.
Disamping mengajukan dua tipe keluarga tersebut beliau juga mengutip dari buku pendidikankan kependudukan proyek nasional pendidikan kependudukan, Departemen P & K dan BKKBN Jakarta, yang mengemukakan tentang tipe keluarga sebagai berikut 1) Keluarga batih,yaitu keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak-anak yang belum kawin. 2) Keluarga bukan batih, yaitu keluarga yang terdiri satu atau lebih keluarga batih.
Dalam kehidupan keluarga memang mempunyai tipe kehidupan yang berlainan di antara satu dengan yang lainnya. Terhadap cara mendidik anaknya dan juga berpengaruh bagi perkembangan jiwa ank selanjutnya, bahkan dapat mempengaruhi kebahagiaan yang akan dicapai oleh keluarga yang bersangkutan. Seperti dikemukakan oleh Danuri (1999:15) bahwa tipe keluarga dibedakan menjadi enam tipe yaitu :
1.    Kelarga Yang Sibuk
Kehidupan kelarga yang sibuk selalu diikuti oleh kesibukan semua anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupmnya, ayah dan ibu bekaerja bahkan anak-anaknya juga ikut bekerja, sehingga orang tua kurang memperhatikan anank-anaknya.

2.    Keluarga Lemah Wibawa
Orang tua yang berwibawa akan berpengaruh terhadap sikap dan perbuatan anak-anaknya, begitu jauga sebaliknya orang tua yang tidak berwibawa atau lemah wibawa. Orang tua yang kurang berwibawa terhadap anak-anaknya maka anak-anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya sehingga sering terjadinya  penyimpangan-penyimpangan dari norma yang di miliki orangtuanya. Dengan tidak adanya kewibawaan orang tua terhadap anak-anaknya maka pendidikan di dalam keluarga oleh orang tua tidak dapat berlangsung dengan baik, karena anak lebih pandai, sehingga tidak memperhatikan nasehat atau saran  yang di beikan oleh orang tuanya.

3.    Keluarga Yang Tegang
Susunan keluarga yang tegang dimana hubungan di antara anggota keluarga yang kurang akrab, kurang adanya kasih sayang  bahkan sering kali terjadi ketegangan hubungan antara ayah dan ibu. Hal ini akan berakibat bagi anak-anak tertanam untuk memihak ayah atau ibu, dan keluarga tegang ini biasanya dialami oleh keluarga besar yang ekonominya kurang. Akibat dari keluarga tegang ini maka pendidikan terhadap anak bersifat keras, sehinga anak akan menjadi orang yang keras kepala, suka menang sendiri dan sebagainya.

4.    Keluarga Yang Retak
di dalam suasana keluarga yang retak, sudah tidak ada keharmonisan antara ayah dan ibu, tidak ada kesatuan pendapat, sikap dan pandangan terhadap sesuatu yang dihadapinya. Akibatnya anak-anak akan terlantar, terutama pendidikannya dalam keluarga, karena tidak jarang anak-anak terpaksa ikut ayah atau ibu tiri sehinga anak merasa kurang mendapat kasih sayang dari orang tuanya.

5.    Keluarga Yang Pamer
Kehidupan keluarga yang senang pamer tidak mempunyai pegangan yang kuat atau ketetapan hati karena mereka sudah hanyut  pada suasana yang baru, mereka tidak mau dikatakan ketingalan , tetapi yang diikuti bukan kemajuaan dari arti yang sebenarnya. Mereka menitik beratkan kemajuan-kemajuan lahiriah yang berupa kemewahan, sedang sepi kerohaniahan kurang diperhatikan,  keluarga yang senang pamer ini biasanya iri terhadap kekayaan orang lain, dan rasa iri inilah yang mengakibatkan keluarga jadi tidak tenteram dan menjadi sumber ketegangan di dalam keluarga.

6.    Keluarga Yang Ideal
Disinilah terdapat suasana yang menyenangkan, biasanya dialami oleh keluarga yang tidak terlalu besar, mutu keluarga tinggi, penghasilan cukup, mempunyai pandangan hidup beragama yang kuat, hidup sederhana dan adanya saling pengertian di antara anggota keluarga terutama ayah dan ibu. Dengan demikian cita-cita keluarga sejahterah lahir dan batinakan dapat terealisir didalam keluarga.




Yang membagi tepe keluarga dengan tujuan dari berbagai sudut pandangan James (1954 :367) yaitu:
1.    Dilihat dari sudut ukurannya (Size)
a.       keluarga besar (the large family), ialah keluarga dengan anak lebih dari tiga orng, dan kemungkinan  kedua adalah keluarga yang tidak hanya terdiri ayah,  ibu dan anak dan anak melaikan termasuk didalamnya kakek,nenek,paman,bibi, keponakan dan lain-lain
b.      keluarga kecil (extended family), yang termasuk keluarga kecil disini, ialah keluarga dengan dua anak atau tiga orang saja, dan tidak ada anggota lainnya.

2.    Dilihat dai organisasinya (organization):
a.       keluarga bekerja sama (the cooperative family), yaitu keluarga yang mempunyai kesadfaran untuk kerjasama antara anggota keluarga, dalam hal ini orang tua memegang peran dalam peraturan,  pembagian kerja dalam rangka kerjasama antara anggota keluarga.
a.      keluarga yang berdiri sendiri (the independent family), yaitu keluarga yang tidak tergantung kepada keluarga atau orang lain, berarti keluarga tersebut dapat membereskan segala urusan keluarganya sendiri, mempunyai penghasilan yang cukup memenuhi kebutuhan keluarganya dan mampu mengurusi kebutuhan keluarganya.
b.      keluarga yang tidak lengkap (The in conplete family), yaitu keluarga yang sudah tidak lengkap lagi, ada kemungkinan ayah atau ibu telah tiada atau cerai dan kemungkinan salah satu atau dari suami atau istri dalam keadaan mandul, sehingga keluarga tersebut tidak mempunyai keturunan, kecuali mereka telah mengangkat anak orang lain (adopsi).

3.    Dilihat dari segi kegiatannya (activity):
a.       Keluarga yang berpindah-pindah (The normadis family) yaitu keluarga yang karena sesuatu hal (biasanya berhubungan dengan pekerjaan) terpaksa tidak dapat menetap dalam suatu kota ada kemungkinan harus berpindah-pindah rumah disebabkan belum memiliki tempat tinggal sendiri dan harus berpindah-pindah rumah apabila kontrak atau sewanya habis.
b.      Keluarga yang suka joint (The joines family), yaitu keluarga yang mempunyai kegiatan suka bekerja sama dengan keluarga lain dalam mengerjakan sesuatu misalnya dalam bidang usaha untuk mencari nafkah.
c.       Keluarga yang berpendidikan (The familyn of the intelligentia), yaitu keluarga yang mementingkan masalah pendidikan atau kecerdasan bagi setiap anggotanya sehingga keluarga tersebut mementingkan sekali sekolah bagi anggota keluarganya.
d.      Keluarga yang tinggal di batukarang, didekat pantai (The chiff-dweller family), didaerah yang berjurang, sehingga mata pencaharian mereka mengumpulkan benda-benda disekitarnya untuk dijadikan barang-barang kerajinan, atau peralatan, dapat juga sebagai nelayan, pencari ikan.
e.       Keluarga yang suka berderma atau berbuat bermanfaat bagi masyarakat (The community benefactor family ), mereka pada umumnya suka menolong, bermurah hati pada tetangga dan orang-orang lainnya.

4.    Dilihat dari nilai dan tujuannya (Values and Goals)
a.    Keluarga yang tingkat sosialnya tinggi (The social climber family) yaitu keluarga yang mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat dalam masyarakat, mungkin karena jabatannya, pendidikannya, kekayaannya dan sebagainya.
b.   Keluarga yang materialistik (The materialistic family), yaitu keluarga yang mementingkan harta benda, sehiongga sikap dan tindakannya serta pandangannya pada harta benda atau kekayaannya.
c.    Keluarga yang agamanya berlebihan (Overly religious family), yakni keluarga yang sangat mementingkan kehidupan beragama  dalam suasana keluarganya.
d.   Keluarga ilmiah (The The Scientific family), yaitu keluarga yang sangat mendambakan ilmu pengetahuuan, sehingga sikap, tindakannya dan pandangannya selalu berorientasi pada hal-hal yang ilmiah.
e.    Keluarga yang suka takhayul (The superstations family), yaitu keluarga yang masih sangat percaya kepada hal-hal yang mengandung takhayul, sehingga kehidupan keluarganya tersebut penuh dengan tradisi yang kurang masuk akal.
f.    Keluarga yang masih kuno (The conventional family), yaitu keluarga yang masih mengikuti adat kuno, belum dapat meninggalkan kebudayaan yang tradisional dan kurang mengikuti kebiasaan modern.

Tipe Keluarga Khususnya di indonesia

1.      Tipe keluarga bangsawan
Tipe keuarga bangsawan yaitu dimana keturunan raja-raja atau pangeran masih memegang teguh sekali tingkat kebangsawanan yang dimiliki. Mereka masih ,merasa tidak sama dengan masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki titel kebangsawanan. Ada kalanya titel kebangsawanan itu dijadikan bahan pertimbangan dalam perkawinan, perkawinan hendaknya terdiridari calon suamimi isteri yang titel kebangsawanannya sejajar, agar supaya salahsatu dari mereka tidak kehilangan titelnya.
Pria yang memiliki titel kebangsawanan tinggi boleh kawin dengan wanita yang titelnya lebih rendah, dan akhirnya wanita akan terangkat oleh titel suaminya, demikianpula anak-anaknya akan memperoleh titel sebagaimana titel ayahnya. Tetapi sebaliknya kurang disejui seorang wanita kurang disetujui seorang wanita bertitel tinggi kawin dengan pria bertitel lebih rendah, karena sipria tidak dapat ditingkatkan titelnya oleh si wanita, bahkan untuk selanjutnya anak-anaknya pun tidak berhak memakai titel ibunya, mereka hanya memakai titel ayahnya yang lebih rendah dari ibunya.

  1. Tipe keluarga saudagar
Tipe keluarga ini bukan soal kepangkatan, gelar/titel, melainkan pada kekayaan. Pada umumnya keluarga ini bukan pegawai negeri, melainkan sebagai orang swasta, pengusaha, pedagang dan pemilik perindustrian dan lain-lain. Daaalam hidupnya mereka gigih berjuang untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang mereka tidak/kurang berpendidikan, terutama pendidikan tinggi, tetapi mereka memiliki strategi yang cukup baik dalam hal bisnis. Nmereka tidak begitu memahami akan pendidikan, gelar kesarjanaan dan kedudukan, karena hal itu tidak menjamin dapat mendatangkan hasil yang baik. Mereka lebih mengagumi akan orang-orang yang usahanya meningkat dana kekayaanya bertambah.
Status ekonomi sering dijadikan pertimbangan dalam perkawinan. Mereka selalu mengusahakan agar perkawinan selalu terjadi antara tipe keluarga sejenisnya dengan maksud agar kekayaannya tidak jauh pada orang/keluarga bukan saudagar. Sehinga banyaknya perkawinan sering ditentukan oleh orang tua/keluarganya. Calon yang bersangkutan tinggal menerima pilihan dari keluarganya, bahkan sering terjadi perkawinan antara keluarga dekat (keluarga saudagar), dan efek atau akibat negatifnya sering keturunannya mengalami cacad tubuh maupun mental dikarenakan oleh perkawinan antara orang-orang yang memiliki hubungan darah terlalu dekat.
Tradisi seperti ini sudah dikikis oleh generasi muda dari golonannya sendiri, keturunan mereka kadang-kadang tidak lagi mau menertima atau melakukan tradisi itu. Mereka sering bepindah haluan untuk mencapai gelar sarjana dan tidak melanjutkan pekerjaan/profesi orang tuanya, dan mereka memilih pasangannya berdasarkan rasa cinta dan kecocokan. Tipe keluarga ini tidak hanya sampai taraf anak-anaknya, melainkan sampai dapa cucu-cucu, kemenakan atau keluarga dekat lainnya. Mereka sangat bekerjasama dalam hal bisnis antara keluarga, dalam rangka memberikan bimbingan pada keluarganya.

3.      Tipe Keluarga Petani
Tipe keluarga ini sangat mengutamakan pekerjaan bertani, pekerjaan-pekerjaan yang lain terasa kurang sesuai dengan dirinya. Biasanya keluarga ini menghendaki keturunannya bekerja sebagai petani, pendidikan dianggap kurang penting, sekolah dianggap menghabiskan biaya saja, sedang buah yang dipetik dari sekolah masih sangat lama dan jauh dapat dicapai. Mereka pada umumnya mementingkan tempat tinggal (papan), sehingga kebanyakan petani mementingkan untuk membuat rumah yang megah, bbesar dan bagus. Tetapi kadang-kadang tidak mementingakan sandang dan pangan, mereka lebih lebih suka untuk berpakaian dan makan secara sederhana, tetapi memiliki rumah sedemikian rupa. Ukuran kesuksessan mereka dilihat dari wujud rumah dan banyaknya panenan padi. Kebiasaan seperti ini telah terkikis oleh generasi mudanya, dimana mereka bersikeras melanjutkan pelajaran sampai tuntas dan akhirnya nanti mencari pekerjaan lain dalam masyarakat.
Kebanyakan dari pemudanya tidak tahu-menahu dalam pekerjaan sawahnya sendiri melainkan dekerjakan oleh petugas-petugas bayaran ataupun memakai sistem bagi dua, pemilik hanya mendapatkan hasil separohnya untuk yang mengerjakannya.



4.      Tipe Keluarga Intelek
Tipe keluarga ini jelas mendambakan intelektualitas  ataupun pendidikan. Keluarga ini menghendaki keturunananya dapat mencapai pendidikan setinggi-tingginya, gelar sarjana menjadi batas minimum dari tingkat pendidikan bagi keluarganya. Mereka akan sangat kecewa bilaad dari anaknya gagal dalam studinya, misalnya gagal dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi, atau gagal dalam mencapai sarjana.
   Tentu saja merekapun menghendaki pasangan dari anaknya juga seorang sarjana. Mereka akan bangga apabila pembicaraan/ situiasi rumah selalau bernafaskan hal-hal ilmiah. Mereka sangat mementingkan gengsi dan harga diri. Sebagai konskwensinya mereka selalu korek dalam segala hal, misalnya dalam bertingkah laku dan bertutur kata, karena mereka yakin akan selaluberusaha untuk dapat menyumbangkan pikirannya dalam masyarakat. Biasanya mereka sangat mementingkan masalah sandang, pangan dan papan, khususnya dalam mendidik putra putrinya, karena mereka akan sangat terkena malu apabila ada keluarganya yang tercela dalam masyarakat.
Dan biasanya predikat intelek ini akan selalu di sangkut pautkan dengan apa saja olh masyarakat, misalnya caranya berpakaian sangat intelek, bicaranya intelek, tata laksana rumah tanggannya tanpak kalo orang intelek dan lain-lain. Sehingga bagi tipe ini akan sangat memperhatikan dalam segala bidang kecuali intelektualita juga etika maupun estetika.

5.      Tipe Keluarga Pegawai Negeri 
Tipe keluarga ini merasa bahagia menjadi pegawai Negri, apapun yang dijabatkan,baik yang telah berpangkat tinggi adapun rendah. Mereka merasa hidup tentram sebagai pegawai negri, mereka tidak Harus memutar otak untuk mendapatkan nafkah untuk hari ini atau esok. Merasa terjamin kehidupannya, baik hidupnya sekarang ataupun yang akan datang. Mereka sudah dapat membuat perencanaan dengan hasil yang di terimanya setiap bulan. Mereka dapat mengusahakan atau mengetahui tentang kenaikan pangkatnya, tentang kenaikan gajinya. Keluarganyapun mendapatkan tunjangan dari pemerintah.
Andaikata mereka berwiraswasta itu sekedar sebagai tambahan hasil saja, sehingga mereka akan melaksanakan wiraswasta dengan hati tentram, karena itu bukan merupakan pencarian pokok. Mereka slalu mengidam-ngidamkan anaknya pun menjadi pegaswai negriserta kawin dengan pegawai negri. Pegawai negri menjadi tipe ideal bagi keluarga tersebut. Walaupun kadang-kadang sebagai pegawai negri mereka harus hidup sederhana sesuai dengan penghasilan yang di terima setiap bulannya, dan harus selalu menyesuaikan diri dengan harga-harga yang ada.
Biasanya seorang pegawai Negri akan selalu meningkat walaupun secara lambat, mengenai tempat tinggal terpaksa belum memiliki, pemerintah akan turun tangan untuk membantunya, misalnya dengan adanya perumahan dinas , perumnas, dan perumahan murah yang lain. Sehingga betul bagi keluarga yang tidak menghendaki kemewahan yang berlebihan, akan cukup sebagai keluarga pegawai negri.
Maka dengan lima tipen keluarga yang kami ajukan ini, kami rasa telah cukup banyak tipe-tipe/jenis-jenis keluarga yang pada umumnya ada dalam masyarakat yang kami perkenalakan pada segenap pembaca. Sehingga para pembaca dapat mencek dirinya sendiri termasuk tipe keluarga yang bagaimana.









BAB III
PENUTUPAN
3.1. Kesimpulan
Setiap keluarga mempunyai ciri khusus yang berlainan antara satu dengan yang lain yaitu keluarga yang sibuk, keluarga lemah wibawa, keluarga yang tegang, keluarga yang retak, keluarga yang pamer, dan keluarga yang ideal, dari tipe itu akan sangat berpengaruh terhadap cara mendidik anaknya dan juga berpengaruh bagi perkembangan jiwa anak selanjutnya, bahkan dapat mempengaruhi kebahagiaan yang akan dicapai oleh keluarga yang bersangkutan dan akan berpengaruh juga bagi perkembangan anak selanjutnya.

3.2. Saran
Apapun jenis dan karakteristik keluarga hendaklah mementingkan keutamaan bagi perkembangan seorang anak, karena keluarga adalah pendidikan paling utama dan pertama sebagai salah satu faktor terpenting dalam pembentukan karater.
“Harta paling berharga adalah keluarga dan istana termegah adalah keluarga”.
Keluarga seharusnya bisa memberi arahan-arahan yang baik agar terjadi hubungan yang baik pula.









DAFTAR PUSTAKA
DR. Hj. Siti Hartinah DS, MM. 2009. Konseling Keluarga Badan Penerbitan Tagal : Universitas Pancasakti
Riadi, Muklisin. 2012. Pengertian Keluarga. http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisi-fungsi-dan-bentuk-keluarga.html#ixzz2O4EG1HiW

4 komentar: