Kamis, 16 Mei 2013

Teori Kognitif


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah
Teori-teori belajar bermunculan seiring dengan perkembangan teori psikologi. Salah satu diantara teori belajar yang terkenal adalah teori belajar behaviorisme dengan tokohnya B.F. Skinner, Thorndike, Watson dan lain-lain. Dikatakan bahwa, teori-teori belajar hasil eksperimen mereka secara prinsipal bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.
Namun seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, teori tersebut mempunyai beberapa kelemahan, yang menuntut adanya pemikiran teori belajar yang baru. Dikatakan bahwa, teori-teori behaviorisme itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti  kinerja mesin atau robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai  kelemahan teori behaviorisme.
Dari kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam teori behaviorisme dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa yang akan dilakukan oleh  para ahli psikologi pendidikan dalam  mengatasi kelemahan teori tersebut ?’’Realitas ini sangat penting untuk dibahas dalam makalah ini.
Untuk itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan tulisan-tulisan dalam berbagai literatur, ditemukan bahwa para ahli telah menemukan teori baru tentang belajar yaitu teori belajar kognitif yang lebih mampu meyakinkan dan menyumbangkan pemikiran besar demi perkembangan dan kemajuan proses belajar sebagai  lanjutan dari teori behaviorisme tersebut.
Selanjutnya berangkat dari latar belakang masalah tersebut di atas, makalah ini kami beri judul “Teori Belajar Kognitif Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran.

1.2   Rumusan Masalah
      Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian belajar menurut pandangan teori Kognitif itu ?
2.      Apa saja macam-macam teori belajar kognitif ?
3.      Siapa tokoh-tokoh teori belajar Kognitif itu, dan apa pemikirannya ?
4.      Bagaimana aplikasi teori kognitif dalam kegiatan pembelajaran ?
5.      Lakah-langkah pembelajaran menurut para ahli ?

1.3     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar kita dapat menjelaskan/mendeskripsikan :
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah belajar dan pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui pengertian belajar menurut pandangan teori kognitif.
3.      Untuk mengetahui apa saja macam-macam teori belajar kognitif, dan siapa tokoh dan apa pemikirannya tentang belajar kognitif.
4.      Untuk mengetahui aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran.
5.      lUntuk mengetahui akah-langkah pembelajaran menurut para ahli.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif

Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Model belajar kognitif mrngatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
 Belajar kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.




2.2  Macam-macam Teori Belajar Kognitif
Yang termasuk teori belajar kognitif adalah:
    1. Teori belajar Pengolahan Informasi
         Gambar tersebut menunjukkan titik awal dan akhir dari peristiwa pengolahan informasi. Garis putus-putus menunjukkan batas antara kognitif internal dan dunia eksternal. Dalam model tersebut tampak bahwa stimulus fisik seperti cahaya, panas, tekanan udara, ataupun suara ditangkap oleh seseorang dan disimpan secara cepat di dalam sistem penampungan penginderaan jangka pendek. Apabila informasi itu diperhatikan, maka informasi itu disampaikan ke memori jangka pendek dan sistem penampungan memori kerja. Apabila informasi di dalam kedua penampungan tersebut diulang-ulang atau disandikan, maka dapat dimasukkan ke dalam memori jangka panjang.
           Kebanyakan, peristiwa lupa terjadi karena informasi di dalam memori jangka pendek tidak pernah ditransfer ke memori jangka panjang. Tapi bisa juga terjadi karena seseorang kehilangan kemampuannya dalam mengingat informasi yang telah ada di dalam  memori jangka panjang. Bisa juga karena interferensi, yaitu terjadi apabila informasi bercampur dengan atau tergeser oleh informasi lain.
    2. Teori belajar Kontruktivisme
             Teori belajar Kontruktivisme memandang bahwa:
-  Belajar berarti mengkontruksikan makna atas informasi dari masukan yang masuk ke dalam otak.
-   Peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri.
-  Peserta didik sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan prinsip-prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap  tidak bisa digunakan lagi.
-     Peserta didik mengkontruksikan pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya.

    Teori Kontruktivismemenetapkan 4 asumsi tentang belajar yaitu:

            - Pengetahuan secara fisik dikonstruksikan oleh peserta didik yang terkibat dalam belajar aktif.
         - Pengetahuan secara simbolik dikonstruksikan oleh peserta didik yang membuat representasi atas kegiatannya sendiri.
- Pengetahuan secara sosial dikonstruksikan oleh peserta didik yang menyampaikan maknanya kepada orang lain.
 -Pengetahuan secara teoritik dikonstruksikan oleh peserta didik yang mencoba menjelaskan obyek yang tidak benar-benar dipahaminya.

    Slavin menyarankan 3 strategi belajar efektif, yaitu:
   - membuat catatan
   - belajar kelompok
   - menggunakan metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite, review)

2.3  Tokoh-tokoh Aliran Kognitif

1.Teori Perkembangan Piaget

Piaget adalah seorang tokoh psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu  suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-peribahan kualitatif didalam struktur kognitifnya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.

Menurut Piaget, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu :
  1. Asimilasi
 proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif  yang sudah ada dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa), dengan prinsip perkalian (sebagai  informasi baru) itu yang disebut asimilasi.
  1. Akomodasi
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
  1. Equilibrasi (penyeimbangan)
penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara “dunia dalam” dan “dunia luar”.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori motor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (pra-operasional) dan lain lagi yang dialami siswa lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional kongrit dan operasional formal). Jadi, secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya.
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
2.Teori belajar menurut Bruner
Jerome Bruner (1996) adalah seorang pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif. Dengan teorinya yang disebut free discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar akan ber jalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Ada tiga tahap perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Bruner, yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik.
  1. Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya
Untuk memahami lingkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.
  1. Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil)an perbandingan (komparasi).
  2. Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya.


Peranan guru menurut psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh  proses pendidikan di sekolah, maka peserta didik akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.

Menurut Bruner, pembelajaran yang selama ini diberikan disekolah lebih banyak menekankan pada perkembangan kemampuan berpikir analisis, kurang mengembangkan kemampuan berpikir intuitif. Padahal berpikir intuitif sangat penting bagi mereka yang menggeluti bidang matematika, biologi, fisika, dan sebagainya, sebab setiap disiplin mempunyai konsep-konsep, prinsip, dan prosedur yang harus dipahami sebelum seseorang dapat belajar. Cara yang baik untuk belajar adalah memahami ,arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).

3. Teori Belajar Bermakna Ausubel
Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar asosiatif atau belajar menghafal. Belajar yang demikian tidak banyak bermakna bagi siswa.materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk stuktur kognitif.  Dia berpendapat bahwa menghafal berlawanan dengan bermakna, karena belajar dengan menghafal, peserta didik tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan demikian bahwa belajar itu akan lebih berhasil jika materi yang dipelajari bermakna.

David Ausubel merupakan salah satu tokoh ahli psikologi kognitif yang berpendapat bahwa keberhasilan belajar siswa sangat ditentukan oleh kebermaknaan bahan ajar yang dipelajari. Ausubel menggunakan istilah “pengatur lanjut” (advance organizers), merupakan penerapan konsepsi tentang stuktur kognitif didalam merancang pembelajaran. Penggunaan advance organizers sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru, karena merupakan kerangka dalam bentuk abstrak atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam stuktur kognitif siswa. jika ditata dengan baik, advance organizers akan memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajarinya.

2.4  Aplikasi Teori Kognitif Dalam Kegiatan Pembelajaran

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan pembalejaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sbagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavoristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarnya mengkuti prinsip-prinsp sebagai berikut :
  1. Siswa bukan sebagai oang dewasa yang muda dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan bnda-benda konkret.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan seswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
  4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
  5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi belajar disusun dengan menggunakan pola dan atau logika tertentu, dari sederhana kekompleks.
  6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
  7. Adanya perbedaaan individual pada diri siswa perludiperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan lajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampan berfikir, pengetahuan awal dan sebagainya.

Dari pemahaman diatas, maka langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh masing-masing tokoh tersebut berbeda. Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran yang dikemukan oleh suciati dan prastya irawan (2001) dapat digunakan. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut :

a.         Langkah-langkah pembelajaran menurut piaget:
  1. Mentukan tujuan pembelajaran.
  2. Memilih materi pelajaran.
  3. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif
  4. Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, dan sebagainya.
  5. Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara befikir siswa.
  6. Melakukan nilai proses dan hasil belajar.

b.        Langkah-langkah pembelajaran menurut bruner :
  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal,minat,gaya belajar dan sebagainya)
  3. Memiliki materi pelajaran.
  4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh ke generelisasi).
  5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari sisa
  6. Mengatur topi-topik pelajaan dari yang sederhana ke kompleks, dari yang kongkrit, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

  1. Langkah-langkah pembelajaran menurut ausubel :
1.    Menentukan tujuan pembelajaran.
2.    Melakukan identifikasi karakteristik siswa ( kemampuan awal, motifasi, gaya belajar dan sebagainya).
3.    Memiliki materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.
4.    Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk ad-vance organizer yang akan dipelajari siswa.
5.    Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
6.    Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.










BAB III
PENUTUP

a.    Kesimpulan
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Model belajar kognitif mrngatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
b.    Saran
Hendaknya pengetahuan tentang kognitif siswa perlu dikaji secara mendalam oleh  para calon guru dan para guru demi menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif siswa , guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkannya di kelas, yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas. Karena faktor kognitif yang dimiliki oleh  siswa merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan siswa melalui kegiatan belajar baik secara mandiri maupun secara kelompok.
  1.  









DAFTAR PUSTAKA
budiningsih, DR. C. ASRI. (2005). Belajar dan Pembalajara. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Artikel Stress


What Causes Stress?
Many different things can cause stress -- from physical (such as fear of something dangerous) to emotional (such as worry over your family or job.) Identifying what may be causing you stress is often the first step in learning how to better deal with your stress. Some of the most common sources of stress are:
Survival Stress - You may have heard the phrase "fight or flight" before. This is a common response to danger in all people and animals. When you are afraid that someone or something may physically hurt you, your body naturally responds with a burst of energy so that you will be better able to survive the dangerous situation (fight) or escape it all together (flight). This is survival stress.
Internal Stress - Have you ever caught yourself worrying about things you can do nothing about or worrying for no reason at all? This is internal stress and it is one of the most important kinds of stress to understand and manage. Internal stress is when people make themselves stressed. This often happens when we worry about things we can't control or put ourselves in situations we know will cause us stress. Some people become addicted to the kind of hurried, tense, lifestyle that results from being under stress. They even look for stressful situations and feel stress about things that aren't stressful.
Environmental Stress - This is a response to things around you that cause stress, such as noise, crowding, and pressure from work or family. Identifying these environmental stresses and learning to avoid them or deal with them will help lower your stress level.
Fatigue and Overwork - This kind of stress builds up over a long time and can take a hard toll on your body. It can be caused by working too much or too hard at your job(s), school, or home. It can also be caused by not knowing how to manage your time well or how to take time out for rest and relaxation. This can be one of the hardest kinds of stress to avoid because many people feel this is out of their control. Later in this course we will show you that you DO have options and offer some useful tips for dealing with fatigue.


Apa penyebab stress?

Banyak hal yang dapat menyebabkan stres - dari fisik (seperti takut pada1 sesuatu yang berbahaya) ke emosional Mengidentifikasi apa yang mungkin menyebabkan Anda stres seringkali merupakan langkah pertama dalam belajar bagaimana untuk kesepakatan yang lebih baik dengan (misalnya khawatir atas keluarga atau pekerjaan.) stres Anda. Beberapa sumber yang paling umum dari stres adalah:

Stres Survival - Sebelumnya anda mungkin pernah mendengar ungkapan "melawan atau lari". Ini adalah respon yang umum terhadap bahaya pada semua orang dan hewan. Bila Anda takut bahwa seseorang atau sesuatu yang secara fisik mungkin menyakiti Anda, tubuh Anda secara alami merespon dengan ledakan energi sehingga Anda akan lebih mampu bertahan situasi berbahaya (melawan) atau melarikan diri itu semua bersama-sama (penerbangan). Ini adalah stres hidup.

Stres internal - Pernahkah Anda menangkap sesuatu yang mengkhawatirkan pada diri anda tentang hal-hal yang dapat Anda lakukan atau mengkhawatirkan tanpa alasan sama sekali? Ini adalah stres internal dan itu adalah salah satu jenis yang paling penting dari stres untuk memahami dan mengelola. Stres internal adalah ketika orang membuat diri mereka stres. Hal ini sering terjadi ketika kita khawatir tentang hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan atau menempatkan diri dalam situasi kita tahu akan menyebabkan kita stres. Beberapa orang menjadi kecanduan jenis terburu-buru, gaya hidup tegang, bahwa hasil dari berada di bawah stres. Mereka bahkan mencari situasi stres dan merasa stres tentang hal-hal yang tidak stres.

Stres lingkungan - Ini merupakan respon terhadap hal-hal di sekitar Anda yang menyebabkan stres, seperti kebisingan, berkerumun, dan tekanan dari pekerjaan atau keluarga. Mengidentifikasi tekanan lingkungan dan belajar untuk menghindari mereka atau berurusan dengan mereka akan membantu menurunkan tingkat stres Anda.

Kelelahan dan kerja paksa - ini semacam stres menumpuk selama waktu yang lama dan tubuh anda dapat menjadi korban. Hal ini dapat disebabkan oleh terlalu banyak bekerja atau terlalu keras pada pekerjaan Anda , sekolah, atau rumah. Hal ini juga dapat disebabkan oleh tidak tahu bagaimana mengelola waktu dengan baik atau bagaimana untuk mengambil waktu untuk istirahat dan relaksasi. Ini bisa menjadi salah satu jenis yang paling sulit untuk menghindari stres karena banyak orang merasa ini adalah di luar kendali mereka. Kemudian dalam kursus ini kami akan menunjukkan bahwa Anda memiliki pilihan dan menawarkan beberapa tips yang berguna untuk menghadapi kelelahan.











How Does Stress Affect You?

Stress can affect both your body and your mind. People under large amounts of stress can become tired, sick, and unable to concentrate or think clearly. Sometimes, they even suffer mental breakdowns.
Good Stress Versus Bad Stress
So if stress can be so bad for you, how can there be "good" or "positive" stress?
If you are suffering from extreme stress or long-term stress, your body will eventually wear itself down. But sometimes, small amounts of stress can actually be good.
Understanding your stress level is important. If nothing in your life causes you any stress or excitement, you may become bored or may not be living up to your potential. If everything in your life, or large portions of your life, cause you stress, you may experience health or mental problems that will make your behavior worse.
Recognizing when you are stressed and managing your stress can greatly improve your life. Some short-term stress -- for example what you feel before an important job presentation, test, interview, or sporting event -- may give you the extra energy you need to perform at your best. But long-term stress -- for example constant worry over your job, school, or family -- may actually drain your energy and your ability to perform well.




BAGAIMANA STRES MEMPENGARUHI ANDA?
Stres dapat mempengaruhi tubuh dan pikiran Anda. Orang di bawah sejumlah besar stres dapat menjadi lelah, sakit, dan tidak mampu berkonsentrasi atau berpikir jernih. Kadang-kadang, mereka bahkan menderita gangguan mental.

BAIK STRES VERSUS STRES BAD  (stress yang baik lawan stress yang buruk)

Jadi jika stres bisa begitu buruk bagi Anda, bagaimana bisa ada "baik" atau "positif" stres?
Jika Anda menderita stres yang ekstrim atau stres jangka panjang, tubuh Anda akhirnya akan memakai sendiri turun. Tapi kadang-kadang, sejumlah kecil stres benar-benar bisa menjadi baik.
Memahami tingkat stres Anda adalah penting. Jika tidak ada dalam hidup Anda menyebabkan Anda stres atau kegembiraan, Anda mungkin menjadi bosan atau tidak mungkin hidup sampai potensi Anda. Jika segala sesuatu dalam hidup Anda, atau sebagian besar hidup Anda, menyebabkan Anda stres, Anda mungkin mengalami masalah kesehatan atau mental yang akan membuat perilaku buruk Anda.
Menyadari ketika Anda sedang stres dan mengelola stres Anda dapat sangat meningkatkan kehidupan Anda. Beberapa stres jangka pendek - misalnya apa yang Anda rasakan sebelum presentasi pekerjaan penting, tes, wawancara, atau acara olahraga - bisa memberikan energi tambahan yang Anda butuhkan untuk melakukan yang terbaik. Tapi stres jangka panjang - misalnya khawatir konstan selama, sekolah pekerjaan Anda, atau keluarga - mungkin benar-benar menguras energi Anda dan kemampuan Anda untuk melakukan dengan baik
.


You Are Not Alone: Common Facts About Stress
  • Millions of Americans suffer from stress each year.
  • In fact, 3 out of 4 people say they experience stress at least twice a month.
  • Over half of those people say they suffer from 'high' levels of stress at least twice a month.
  • Stress can contribute to heart disease, high blood pressure, and strokes, and make you more likely to catch less serious illnesses like colds. It can also contribute to alcoholism, obesity, drug addiction, cigarette use, depression, and other harmful behaviors.
  • In the last 20 years, the number of people reporting that stress affects their work has gone up more than four times. (Whereas the number of people reporting that other illnesses affect their work have gone down.)
  • One fourth of all the drugs prescribed in the United States go to the treatment of stress.
  • FACT: There are simple steps you can take right now to help reduce your stress!


ANDA TIDAK SENDIRIAN: FAKTA UMUM TENTANG STRES
Jutaan orang Amerika menderita stres setiap tahun.
Bahkan, 3 dari 4 orang mengatakan mereka mengalami stres setidaknya dua kali sebulan.
Lebih dari setengah dari orang-orang mengatakan mereka menderita 'tinggi' tingkat stres setidaknya dua kali sebulan.
Stres dapat berkontribusi pada penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke, dan membuat Anda lebih mungkin untuk menangkap penyakit yang kurang serius seperti pilek. Hal ini juga dapat berkontribusi terhadap alkoholisme, obesitas, kecanduan narkoba, penggunaan rokok, depresi, dan perilaku berbahaya lainnya.
Dalam 20 tahun terakhir, jumlah orang yang melaporkan stres yang mempengaruhi pekerjaan mereka sudah naik lebih dari empat kali. (Sedangkan jumlah orang yang melaporkan bahwa penyakit lain yang mempengaruhi pekerjaan mereka sudah turun.)
Seperempat dari semua obat yang diresepkan di Amerika Serikat pergi ke pengobatan stres.
FAKTA: Ada langkah sederhana yang dapat Anda ambil sekarang untuk membantu mengurangi stres Anda
!