MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA
Dengan Judul
“Pembelajaran
karakteristik moral dan akhlak”
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah
:Pendidikan Agama
Dosen Pengampu
: M. Aries Rofiqi,M.SI

Di
susun oleh:
Nama : Imas
Maspupatun
Kelas :
I D
NIM : 1111 500194
Fakultas/jurusan :
FKIP/Bimbingan Konseling
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
Jl.
Halmahera KM. 1 Kota Tegal – Telp/Fax (0283) 351082
2011
Kata Pengantar
Dengan puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa,
atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul: “pembelajaran
karakteristik moral dan akhlak”
Saya
menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan
Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Terutama kepada desen pengampu M.Aries Rofiqi, M.SI mata kuliah Pendidikan
Agama .
Makalah
ini memang masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara
penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh
karenanya, saya akan menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah
ini, dan saya berharap makalah ini dapat berguna bagi
yang membacanya
Tegal, Desember 2011
Penyusun
Imas Maspupatun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR
ISI ............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah.................................................................................... 4
C. Tujuan....................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Moral dan penalaran moral.................................................. 6
B. Tahap-tahap perkembangan moral ............................................................. 6
C.
Karakteristik individu berhubungan dengan pemahaman/
D. penalaran moral.............................................................................................. 5
E.
karakteristik
individu berhubungan dengan tindakan moral.................... 6
BAB
III PEMBAHASAN.......................................................................................... 6
A.
Pengertian
dan ruang lingkup akhlak serta perbedaanya dengan moral
Dan etika.......................................................................................................... 6
B.
akhlak
terhadap allah, manusia dan lingkungan hidup................................
1.
akhlak
kepada allah....................................................................................
2.
akhlak kepada manusia..............................................................................
3.
akhlak
kepada lingkungan hidup..............................................................
BAB III KESIMPULAN
D. Kesimpulan ............................................................................................... 13
E. Saran.......................................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA ……………………………………………………………..14
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang masalah
Merebaknya isu-isu moral dikalangan remaja seperti
penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), tawuran pelajar,
pornografi, perkosaan,merusak milik orang lain ,perampasan, penipuan,
pengguguran kandungan, penganiayaan, perjudian, pelacuran, pembunuhan dan
lain-lain, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat
diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimblkan cukup serius dan tidak dapat lagi
dianggap sebagai suatu persoalan yang sederhana, karena tindakan-tindakan
tersebut sudah menjurus kepada tindakan criminal. Kondisi ini sangat
memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua dan para guru (pendidik),
sebab pelaku-pelaku beserta korbanya adalah kaum remaja, terutama para pelajar
dan mahaindividu.
Bila pembelajaran moral menggunakan model
terintegrasi dalam semula bidang studi, maka semua guru adalah pengajar moral
tanpa kecuali. Kelebihan model ini adalah, semua guru ikut bertanggung jawab,
dan pembelajaran tidak selalu bersifat informative –kognitif melainkan
bersifat terapan pada tiap bidang studi. Sedangkan kelemahannya, jika terjadi
perbedaan persepsi tentang nilai-nilai moral diantara guru, maka justru akan
membingungkan individu. Pembelajaran moral dengan model diluarpengajaran, dapat
dilakukan melalui kegiatan-kegiatan diluar pengajaran. Model ini lebih
mengutamakan pengolahan dan penanaman moral melalui suatu kegiatan untuk
membahas dan mengupas nilai-nilai hidup.
Melihat kondisi banyaknya penimpsngsn moral
dikalangan anak-anak dan remaja saat ini, menjadikan tugas yang diemban oleh
para guru dan pendidik dan perancang di bidang pendidikan moral sangaat rumit.
Apapun model pembelajaran yang digunakan, para guru dihadapkan pada sejumlah
variable kondisi yang berada diluar kontrolnya, yang harus diterima apa adanya.
Satu variable yang sama sekali tidak dapat dimanipulasi oleh guru atau
perancang pembelajaran adalah karakteristik individu dan budayanya. Variable
ini harus enjadi pijakan dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran
yang optimal
Ilmuwan belajaran dan para guru juga menghadapi hal
yang serupa dalam mengembangkan prinsip-prinsip pembelajaran moral. Ia harus
menempatkan vaiable-variable kondisional ini, khususnya variable karakteristik individu, sebagai
titik awal dalam mempresepsikan strategi pembelajaran moral. Bila tidak, maka
teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikembangkannya sama sekali
tidak aka nada gunanya bagi laksanaan pembelajaran
Penertian atau pemahaman moral adalah kesadaran
moral, rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang harus melakukan hal itu
, suatu pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai moral. Ini sering kali
disebut dengan penalaran moral atau pemikiran moral atau pertimbangan moral,
yang merupakan seigi kognitif dari nilai moral. Segi kognitif ini perlu
diajarkan kepada para individu.individu dibantu untuk mengerti mengapa suatu
nilai perlu dilakukan.
Tindakan moral yaitu kemampuan untuk melakukan
keputusan dan perasaan moral kedalam prilaku-prilaku nyata. Tindakan-tindakan
moral ini perlu difasilitasi agar muncul dan berkembangan dalam pergaulan
sehari-hari. lingkungan sosial yang
kondusif untuk memunculkan tindakan-tindakan moral, ini sangat diperlukan dalam
pembelajaran moral. Ketiga unsur tersebut yaitu, penalaran, perasaan, dan
tindakan moral harus ada dan dikembangkan dalam pendidikan moral. Selain ketiga
unsur tersebut, masyarakat pada umumnya menekankan pentingnya peranan iman atau
kepercayaan eksistensial dalam meningkatkan moralitas kecenderungan terjadinya
disintegrasinya dan saling curiga diantara anak bangsa ini dikarenakan adanya
krisis kepercayaan yang melanda bangsa ini. Dikatakan ada hubungan yang paralel
antara tingginya moralitas seseorang dengan iman atau kepercayaan eksistensinya
.faktor kebudayaan mempunyai peran dalam perkembangan moral, yaitu pada tempo
atau kecepatan perkembangannya. [1]
B.
Rumusan
Masalah
Dalam makalah ini, penulis
memaparkan beberapa pokok-pokok
permasalahan antara lain:
1.
Pengertian moral
2.
Mengetahui ruang
lingkup akhlak
3.
Mengetahui perbedaan akhlak,
moral dan etika
C.
Tujuan
Adapun Tujuan diadakannya penulisan ini adalah
sebagai berikut :
1 . untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan
agama
2. kita dapat mengetahui pengertian tentang moral
3. kita dapat mengetahui bagaimana pembelajaran
moral berpijak pada karakteristik
4. kita dapat mengetahui konsep dasar moral dan
penalaran moral
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Dasar Moral Dan Penalaran Moral
kata moralitas berasal dari kata mores (bahasa latin) yang
berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat
(Pratidarmanastiti,1991).Dewey mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang
berhubungan dengan nilai-nilai susila (Grinder,1978).sedangkan baron dkk.(1980)
mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan
tindakan yang membicarakan moral salah atau benar.Oleh magnis-suseno
(1987)dikatakan bahwa kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia
sebagai manusia sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat
dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur yang
dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang.menurut magnis-suseno,
sikap moral yang sebenrrnya disebut moralita.ia mengartikan moralitas sebagai
sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas terjadi
apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan
tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah
sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. Hanya moralitaslah yang
bernilai secara moral (magnis-suseno,1987).
Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada prilaku
moral, artinya apa yang dilakukan seorang individu tidak menjadi pusat
pengamatannya. Ia menjadikan penalaran moral sebagai pusat kajiannya.
Dikatakannya bahwa mengamati prilaku tidak menunjukan banyak mengenai
kematangan moral. Seorang dewasa dengan seorang anak kecil barangkali
prilakunya sama, tetapi seandainya kematangan moral mereka berbeda, tidak akan
tercermin dalam prilaku mereka.
Penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu
tindakan,sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk
.kolbergn juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) orang
tentang apakah tindakan tertentu itu benar atau salah. Alasannya, seorang
dewasa dengan seorang anak kecil mungkin akan mengatakan sesuatu yang sama,
maka disini tidak tampak adanya erbedaan antara keduanya. Apa yang berbeda
dalam kematangan moral adalah pada penalaran yang diberikannya terhadap sesuatu
hal ang benar atau salah.
Penalaran moral dipandang sebagai suatu struktur
pemikiran bukan isi.dengan demikian penalaran moral bukanlah tentang apa yang
baik atau yang buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berikir sampai pada
keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk. Penalaran-penalaran moral
inilah yang ,menjadi. Indicator dari tingkatan atau tahapan kematangan moral.
Memperhatikan penalaran mengapa suatu tindakan salah, akan lebih memberi
penjelasan daripada memperhatikan tindakan (prilaku) seseorang atau bahkan
mendengar pernyatan bahwa sesuatu itu salah
Jika penalaran moral dilihat sebagai isi, maka
sesuatu dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial
budaya tertentu, sehingga sifatnya akan sangat relative. Tetapi jika penalaran
moral dilihat sebagai struktur, maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan
penalaran moral seorang anak dengan orang dwasa, dan hal ini dapat
diidentifikasi tingkatan perkembangan moralnya (Kohlberg dalam cremers, 1995c)
Kematangan moral
menuntut penalaran-penalaran yang matang pula dalam arti moral. Sesuatu
keputusan bahwa sesuatu itu baik barangkali dianggap tepat, tetapi keputusan
itu baru disebut matang bila dibentuk oleh suatu proses penalaran yang matang.
Oleh sebab itu tujuan dari pendidikan moral adalah sesuatu yang harus
dikembangkan, maka seharusnya para guru dan pendidik moral mengetahui proses
perkembangan dan cara-cara membantu perkembangan moral tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, penulis berpendapat bahwa
penalaran moral pada intinya bersifat rasional. Suatu keputusan moral bukanlah
soal perasaan atau nilai , melankan selalu mengandung tafsiran kongnitif yang
bersifat konstruksi kongnitif yang aktif dengan memperhatikan tuntutan, hak,
kewajiban, dan keterlibatan individu atau kelompok terhadap hal-hal yang baik. [2]
B.
Tahap-tahap
perkembangan penalaran moral
Melalui hasil penelitiannya Kohlberg (1980b)
menyatakan hal-hal sebagai berikut :
1.Ada
perinsip-perinsip moral dasar yang mengatasi nilai-nilai moral lainnya dan
prinsip-prinsip moral dasar itu merupakan akar dari nilai-nilai moral lainnya
2.Manusia
tetap merupakan subjek yang bebasdengan nilai-nilai yang berasal dari dirinya
sendiri.
3.Dalam
bidang penalaranada tahapan-tahap perkembangan yang sama dan universal bagi
setiap kebudayaan.
4.Tahap-tahap
perkembangan penalaran moral ini banyak ditentukan oleh factor kongnitif atau
kematangan intelektual.
Kesimpulan ini di tarik dari penelitiannya dengan
instrumen yang disebut sebagai “Dilemma Moral Hienz”,yaitu sebuah kasus yang
merangsang responden untuk memeberikan keputusan-keputusan moral.
Bagi Kohlberg sendiri, Dilemma Heinz mengandung
nilai universal. Terhadap nilai universal ini penalaran moral responden diukur.
Dari pola-pola jawaban responden,Kohlberg menemukan apa yang disebutnya
Tahap-Tahap Perkembangan Penalaran Moral. Tahap-tahap tersebut dibagi menjadi 3
tingkatan dan masing-masing tingkat dibagi lagi menjadi 2 tahap.
Menurut Kohlberg (1977) tahap perkembangan penalaran moral sebenarnya
telah dipostulatkan pada pemikiran Dewey, yang memandang perkembangan moral ke
dalam 3 tingkat yaitu: (1) tingkat
pra-moral atau pre-conventional,(2) tingkat conventional,dan (3) tingkat
autonomous. Pemikiran Dewey dikembangkan lebih lanjut oleh Piaget dengan
menetapkan 3 tahap perkembangan moral yang diikuti dengan ketentuan umur yaitu
: (1) tahap pra-moral,yaitu anak yang berumur dibawah 4 tahun,(2) tahap
heteronomous, yaitu anak yang berumur 4-8 tahun, dan (3) tahap otonomous, yaitu
anak yang berumur 9-12 tahun. [3]
Tahap-tahap perkembangan penalaran moral tidak dapat
berbalik (irreversible) yaitu bahwa suatu tahapan yang telah di capai oleh
seseorang tidak mungkin kembali mundur ketahapan dibawahnya. Misalnya,sesorang
yang telah berada pada tahap 5 tidak akn
kembali pada tahap 3 atau tahap 4. Tendensi gerakan umum,proses perkembangan
penalaran moral cukup jelas,yaitu gerak maju dari tahap 1 sampai tahap 6, dan
gerak maju itu bersifat proses diverensiansi dan intregrasi yang semakin tinggi
dan menghasilkan pula eningkatan dalam hal universal. Dewey berpendapat bahwa
proses perkembangan dan pertumbuhanlah yang merupakan tujuan universal
pendidikan moral.
C.
karakteristik
individu berhubungan dengan pemahaman/penalaran moral
Bila dilihat dari unsure pemahaman moral, moral
remaja di jawa cenderung berada ada tahap 3 yaitu orientasi kerukunan atau orientasi good
boy-nice girl. Remaja cenderung berpandangan bahwa tingkah laku yang baik
adalah yang menyenangkan atau menolong orang lain serta di akui orang lain.
Mereka cendrung bertidak menurut harapan-harapan lingkungan sosialnya, hingga
mendapat pengakuan sebagai “anak yang baik”. Tujuan utamanya, demi hubungan
sosial yang memuaskan, maka ia pun harus berperan sesuai dengan harapan-harapan
keluarga, masyarakat atau bangsanya. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri tahap 3
perkembangan penalaran moral yang dikemukakan oleh Kohlberg (1984).
Kecenderungan seperti pada tahap 3 inilah yang
sering di upayakan oleh orang-orang dewasa dalam mendidikan anak. Masyarakat
dan keluarga telah memiliki nilai-nilai yang harus diikuti generasi muda.
Pendidikan moral yang selama ini dilakukan mengangap bahwa setiap orang dewasa
dapat menjadi pendidik moral. Anak atau remaja dengan cara indoktrinasi dibawa
menuju kepadapedewasaan seperti yang dikehendaki orang-orang dwasa. Tujuan
pembelajaran jika meminjam taksonomi bloom tidak sampai pada aspek penalaran
atau penilaian nilai-nilai yang dikehendaki orang dewasa,tetapi tidak memahami
alasannya . Mereka dapat menghafalkan tetapi tidak mengerti maknanya. Cara ini
tidak menghormati anak sebagai subjek moral, sehingga terbeentuk nilai-nilai
moral heteronom.
Pendekatan structural kognitif yang dikemukakan olen
Kohlberg lebih menaruih perhatian pada penalaran moral daripada tindakan moral,
dengan asumsi bahwa pemikiran moral akan mengarahkan tidakan moral. Ia
menganggap tahap-tahap yang lebih tinggi sebagai lebih bermoral dari pada
tahap-tahap yang lebih rendah. Moralitas difinisikan lebih pada ciri formalnya
sebuah pertimbangan moral atau suatu titik pandag moral, dari pada segi isinya
.Baginya ada nilai moral universal yang menjadi tujuan setiap orang dalam
perkembangan moralnya,dan struktur kognitif menjadi kekuatan dinamis untuk
mencapai tahap yang lebih tinggi. [4]
D.
Karakteristik
Individu Berhubungan Dengan Tindakan Moral
Perkembangan moral merupakan suatu hasil kemampuan
yang semakin berkembang untuk memahami kenyataan sosial atau untuk menyusun dan
mengintegrasikan pengalaman sosial,(Kohlberg,1980b cremers, 1995). Pengalaman
sosial tersebut berupa jumlah dan keanekaragaman kesempatan untuk mengambil
sejumlah peran dan untuk berjumpa dengan sudut pandang yang lain.
Prisip-prisip untuk menciptakan aturan dan membagi pearan
(hak dan kewajiban) dalam lembaga apa saja,dari keluarga hingga
pemerintah,merupakan prinsip keadilan dan kejujuran yang paling fundamental.
Demikian juga,prisip demokrasi tidak hanya berfungsi baik,tetapi juga tirut
merangsang proses perkembangan moral.
Pembentukan otonomi moral sebagai pendidikan moral
mensyaratkan adanya interaksi sosial. Pentingnya interaksi ini terletak pada
kontinuitas, organisasi dan kompleksitas stimulasi sosial,dan kognitif yang
dihadapkan pada remaja. Kelompok sosial yang secara intelektual miskn sifatnya
lebih homogen yang di duga banyak diikuti oleh para remaja tidak akan
memberikan motivasi bagi perkembangan moral,karena tidak aka nada konflik nilai
yang menimbulkan kegoncangan equilibrium antara individu dengan masyarakatnya.
Kelompok-kelompok sosial dengan bentuk-bentuk ikatan heteronom yang menganut
pluralitas di bidang nilai seperti agama,suku,dan daerah, potensial bagi
perkembangan moral. Perkembangan moral
mengarah kepada terciptanya equilibrium yang semakin besar dalam
interaksi antara remaja dengan kelompok sosialnya yang berdasarkan keadilan.
Kesempatan untuk mengambil peransosial tampaknya
merupakan suatu yang penting dalam perkembangan sosial tampaknya merupakan
suatu yang penting dalam perkembangan moral. Anak-anak yang maju dalam
perkembangan moral, memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral.
Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak, dan yang mendorong terjadi
dialog, mempunyai anak yang secara moral lebih matang
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
dan ruang lingkup akhlak serta perbedaannya dengan moral dan etika
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluq, artinya tingkah laku, perangai,
tabiat. Sedangkan menurut istilah,akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang
mendorong perbuatan dengan mudah dengan spontan tanpa dipikir dan direnungkan
lagi. Dengan demikian akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri
seseorang secara sepontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila
perbuatan spontan itu baik menurut akal dan agama, maka tindakan itu disebut
akhlak yang baik atau akhlakul karimah.
Sebaliknya apabila buruk disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazmumah. Baik dan buruk akhlak didasarkan kepada sumber
nilai, yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul.
Disamping akhlak dikenal pula istilah moral dan
etika. Seperti yang kita bahas di Bab 1 moral itu berasal dari bahasa latin
mores yang berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik
dan buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat
masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.
Etika adalah sebuah tataan prilaku berdasarkan suatu
system tata nilai suatu masyarakat
tertentu, etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena
itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Jika
dibandingnkan dengan moral, maka etika lebih bersifat teoritis sedangkan
moral berrsifat praktis. Moral bersifat
lokal atau khusus dan etika bersifat umum.
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat
dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk akhlak
berdasarkan alqur’an dan sunnah rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan
adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat. Jika
masyarakat menganggap suatu perbuatan baik, maka baik pulalah nilai perbuatan
itu, dengan demikian standar akhlak bersifat universal dan abadi.
Dalam pandangan
islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena
ituakhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan
harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. [5]
Aku hanya diutus
untuk menyempurnakan akhlak manusia.
(Hadist riwayat Ahmad)
Secara unmum akhlak yang baik pada dasarnya adalah
akumulasi dari aqidah dan syariat yang bersau secara utuh dalam diri seseorang.
Dalam aqidah telah mendorong pelaksanaan syariat akan lahir akhlak yang
baik, atau dengan kata lain akhlak
merupakan prilaku yang tampak apabila syariat islam telah dilaksanakan berdasarkan
aqidah.
B.
Akhlak terhadap Allah, manusia dan lingkungan
hidup
Menurut objek atau sasarannya terdapat akhlak
terdapat akhlak terhadap Allah, akhlak kepada manusia dan akhlak kepada
lingkungan.
1.
Akhlak
kepada Allah
a. Beribadah
kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allahuntuk menyembah-nya sesuai
dengan perintahnya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukan dan
kepatuhan terhadap perintah Allah. Berakhlak kepada Allah dilakukan melalui
media komunikasi yang telah disediakan, antara
lain ibadah shalat
b.
Berzikir kepada Allah,
yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan
mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan
ketentraman hati sebagaimana diungkapkan dalm firman Allah “ingatlah, dengan
zikir kepada Allah akan menentramkan hati”.(ar-ra’d.13:2)
c. Berdoa
kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Doa merupakan iinti ibadah,
karena ia merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuuan akan kemahakuasaan
Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan doa dalam ajaran islam sangat luar
biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu,
berusaha dan berdoa merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara
utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim. Orang yang tidak pernah berdoa adalah
orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu
dipandang sebagai orang yang sombong; suatu prilaku yang tidak disukai Allah
d.
Tawakal kepada Allah,
yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau
menanti akibat dari suatu keadaan
e. Tawaduk
kepada Allah adalah rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah
dan hina di hadapan Allah yng mahakuasa, oleh karenaitu tidak layak kaslau hidup
dengan angkuh dn sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam
melaksanakan ibadah kepada Allah. Nabi bersabda :
Sedekahtidak
mengurangi hartadn Allah tidak menambah selain kehormatan pada seseorang yang
memberi maaf. Dan tidak ada seseorang yang tawaaduk secara ikhlas ksarena Allah, melsinkan dia
dimuliakan Allah(hadist riwayat muslim dari abu hurairah)
Oleh karena itu tidak ada alasan bagi bagi manusia
untuk tidak bertawaduk kepada Allah karena manusia diciptakan dari bahan yang
hina nilainya, yaitu tanah.
2.
Akhlak
Kepada Manusia
a.
Akhlak
Kepada Diri Sendiri
1.
Sabar adalah prilaku
seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan
penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika melaksanakan
perintah, menjauhi larangan, dan ketika ditimpa musibah dari Allah.
Sabar
melaksanakan perintah adalah sikap menerima dan melaksanakan perintah tanpa
pilih-pilih dengan ikhlas. Sedangkan sabar dalm
menjauhi larangan Allah adalah berjuang mengendalikan diri untuk
meninggalkan-nya.
2.
Syukur adalah sikap
berterimakasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bias terhitung banyaknya.
Syukur dapat diungkapkan dalm bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan
adalah memuji Allah dengan bacaan hamdalah, sedangkan syukur dengan perbuatan
dilakukan dengan menggunakan dan memenfatkan nikmat Allah sesuai dengan
keharusanya
Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa aja ang dihadapinya,
orang tua, muda, kaya atau miskin . sikap tawaduk lahir dari kesadarana akan
hakikat dirinya sebagai manusia yang lemah dan seba terbatas yang tidak layak
untuk bersikap sombong dan angkuh dimuka bumi, sikap tawaduk melahirkan ketenangan
jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan
ttidakmenyenangkan orang lain. [6]
b.
Akhlak
Kepada Ibu Bapak
Akhlak
kepada ibu bapak adalah berbuat baik pada keduanya (birrul walidain) dengan
ucapan dan perbuatan. Allah mewasiatkan agar manusia berbuat baik kepada kedua
ibu bapak.
Berbuat
bai kepad ibu bapk dibuktikan dalam bentuk –bentuk perbuatan antara lain:
menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara
bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perinntah, meringankan beban,
serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tik mmampu lagi berusaha.
Berbuat
baik kepada orang tua tidak hanya ketika mereka hidup. Tetapi terus berlangsung
walaupun mereka telah meninggal dunia cara mendoakan dan meminta ampunan untuk
mereka, menepati janji mereka yang belum terpenuhi, meneruskan silaturahmi
dengan sahabat-sahabat sewaktu mereka hidup.
c.
Akhlak
Terhadp Keluarga
Akhlak
terhadap keluarga adalah mengembangkan kasih sayang diantara anggota keluarga
yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Komunikasi dalam keluarga yang
diungkapkan dalam bentuk perhatian baik melalui kata-kata, isyarat-isyarat,
maupun prilaku. Komuniasai yang didorong oleh rasa kasih sayangyang tulus akan
dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Apabila kasih sayang telah mendasari komunikasi orang tua. Demikian sebaliknya,
akan lahir kepercayaan orang tua pada anak. Oleh karena itu kasih saying harus
menjadi muatan utama dalam komunikasi semua pihsk dalam keluarga.
Pendidikan
yang ditanamkan dalam keluarga akan menjadi ukaran pertama bagi anak dalam
menghadapi pengaruh yang datang kepada mereka diluar rumah. Dengan dibekali
nilai-nilai dari rumah, anak dapat menjaring segala pengaruh yang datang
kepadanya, sebaliknya anak-anak yang tidak dibekali nilai dari rumah, jiwanya
kosong dan akan mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan diluar rumah.
Nilai
ensensial yang dididikan kepada anak didalam keluarga adalah aqidah, yaitu
tentang keyakinan tentang eksistensi Allah. Apabila keyakinan terhadap Allah ini
telah tertanam dalm diri anak sejak dari
rumah, maka, kemana pu ia pergi dan apa pun yang dilakukannya akan
hati-hati dan waspada kerena selalu merasa diawasi oleh Allah.
3.
Akhlak
Terhadap Lingkungan Hidup
Misi agama islam adalah mengembangkan rahmatbukan
hanya kepada manusia tetapi juaga kepada alam dan lingkuungan hidup. Misi
tersebut tidak terlepas dari tujuan dianganya manusia sebagai khalifah di muka
bumi ini, yaitu sebagai wakil Allah yang bertugas mamakmurkan, mengella dan
melestarikan alam berakhlak kepada lingkungan
hidup kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan
yang harmonis dengan alam sekitarnya.akibat akhlak yang buruk terhadap
lingkungan dapat disaksikan dengan jelas bsgaimana hutan yang diekploitasi
tanpa batas melahirkan malam petaka bagi manusia. [7]
Kesimpulan
Bahwa pendidikan
akhlak, moral dan etika harus selalu di terapkan karena itu semua penting bagi
kehidupan kita dan anak cucu kita , Apabila keyakinan terhadap Allah ini telah
tertanam dalam diri anak sejak dari
kecil, maka pada saat anak tersebut sudah dewasa kemana pun ia pergi dan apa pun yang
dilakukannya akan hati-hati dan waspada kerena selalu merasa diawasi oleh Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad daud, prof, S.H,
Pendidikan Agama Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Perkasa,1998
Kasier, Abu al-Fida Ismail ibn,
Tafsir al-Quran al-Adim, Beirut, Dar al-Fikr, 1389 H
Prof. Dr. Azyumardi Azra, Buku Teks
Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum, 2002
Dr. C. Asri Budiningsih,
Pembelajaran Moral, Jakarta,PT. Rineka Cipta, 2004
[5]Prof. Dr.Azyumardi Azra, pendidikan agama islam pada perguruan
tinggi umum th. September 2002:h:165
[6]Prof. Dr.Azyumardi Azra, pendidikan agama islam pada perguruan
tinggi umum th. September 2002:h:165
[7]Prof. Dr.Azyumardi Azra, pendidikan agama islam pada perguruan
tinggi umum th. September 2002:h:165-174
