Kamis, 21 Maret 2013

Makalah Pembelajaran karakteristik moral dan akhlak


MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA
Dengan  Judul
“Pembelajaran karakteristik moral dan akhlak”
   Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
  Mata Kuliah :Pendidikan Agama
  Dosen Pengampu : M. Aries Rofiqi,M.SI




            Di susun oleh:
   Nama                            : Imas Maspupatun
Kelas                            : I D
NIM                             : 1111 500194
Fakultas/jurusan          : FKIP/Bimbingan Konseling

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
Jl. Halmahera KM. 1 Kota Tegal – Telp/Fax (0283) 351082
2011


Kata Pengantar

Dengan puji syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul: “pembelajaran karakteristik moral dan akhlak
Saya menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Terutama kepada desen pengampu M.Aries Rofiqi, M.SI mata kuliah Pendidikan Agama .
Makalah ini memang masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, saya akan menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini, dan saya berharap makalah ini dapat berguna bagi yang membacanya




                                                                                                                Tegal,  Desember 2011
                                                                                                                Penyusun

                                                               
                                                                                                                Imas Maspupatun
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang......................................................................................... 4
B.  Rumusan Masalah.................................................................................... 4
C.  Tujuan....................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Moral dan penalaran moral.................................................. 6
B.     Tahap-tahap perkembangan moral ............................................................. 6
C.    Karakteristik individu berhubungan dengan pemahaman/
D.    penalaran moral.............................................................................................. 5
E.     karakteristik individu berhubungan dengan tindakan moral.................... 6
BAB III PEMBAHASAN.......................................................................................... 6
A.    Pengertian dan ruang lingkup akhlak serta perbedaanya dengan moral
Dan etika.......................................................................................................... 6
B.     akhlak terhadap allah, manusia dan lingkungan hidup................................
1.      akhlak kepada allah....................................................................................
2.      akhlak kepada manusia..............................................................................
3.      akhlak kepada lingkungan hidup..............................................................

BAB III KESIMPULAN   
D. Kesimpulan ............................................................................................... 13
E.  Saran.......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..14



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Merebaknya isu-isu moral dikalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), tawuran pelajar, pornografi, perkosaan,merusak milik orang lain ,perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, penganiayaan, perjudian, pelacuran, pembunuhan dan lain-lain, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimblkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan yang sederhana, karena tindakan-tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan criminal. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua dan para guru (pendidik), sebab pelaku-pelaku beserta korbanya adalah kaum remaja, terutama para pelajar dan mahaindividu.
Bila pembelajaran moral menggunakan model terintegrasi dalam semula bidang studi, maka semua guru adalah pengajar moral tanpa kecuali. Kelebihan model ini adalah, semua guru ikut bertanggung jawab, dan pembelajaran tidak selalu bersifat informative –kognitif   melainkan bersifat terapan pada tiap bidang studi. Sedangkan kelemahannya, jika terjadi perbedaan persepsi tentang nilai-nilai moral diantara guru, maka justru akan membingungkan individu. Pembelajaran moral dengan model diluarpengajaran, dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan diluar pengajaran. Model ini lebih mengutamakan pengolahan dan penanaman moral melalui suatu kegiatan untuk membahas dan mengupas nilai-nilai hidup.
Melihat kondisi banyaknya penimpsngsn moral dikalangan anak-anak dan remaja saat ini, menjadikan tugas yang diemban oleh para guru dan pendidik dan perancang di bidang pendidikan moral sangaat rumit. Apapun model pembelajaran yang digunakan, para guru dihadapkan pada sejumlah variable kondisi yang berada diluar kontrolnya, yang harus diterima apa adanya. Satu variable yang sama sekali tidak dapat dimanipulasi oleh guru atau perancang pembelajaran adalah karakteristik individu dan budayanya. Variable ini harus enjadi pijakan dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang optimal
Ilmuwan belajaran dan para guru juga menghadapi hal yang serupa dalam mengembangkan prinsip-prinsip pembelajaran moral. Ia harus menempatkan vaiable-variable kondisional ini, khususnya  variable karakteristik individu, sebagai titik awal dalam mempresepsikan strategi pembelajaran moral. Bila tidak, maka teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikembangkannya sama sekali tidak aka nada gunanya bagi laksanaan pembelajaran
Penertian atau pemahaman moral adalah kesadaran moral, rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang harus melakukan hal itu , suatu pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai moral. Ini sering kali disebut dengan penalaran moral atau pemikiran moral atau pertimbangan moral, yang merupakan seigi kognitif dari nilai moral. Segi kognitif ini perlu diajarkan kepada para individu.individu dibantu untuk mengerti mengapa suatu nilai perlu dilakukan.
Tindakan moral yaitu kemampuan untuk melakukan keputusan dan perasaan moral kedalam prilaku-prilaku nyata. Tindakan-tindakan moral ini perlu difasilitasi agar muncul dan berkembangan dalam pergaulan sehari-hari. lingkungan sosial  yang kondusif untuk memunculkan tindakan-tindakan moral, ini sangat diperlukan dalam pembelajaran moral. Ketiga unsur tersebut yaitu, penalaran, perasaan, dan tindakan moral harus ada dan dikembangkan dalam pendidikan moral. Selain ketiga unsur tersebut, masyarakat pada umumnya menekankan pentingnya peranan iman atau kepercayaan eksistensial dalam meningkatkan moralitas kecenderungan terjadinya disintegrasinya dan saling curiga diantara anak bangsa ini dikarenakan adanya krisis kepercayaan yang melanda bangsa ini. Dikatakan ada hubungan yang paralel antara tingginya moralitas seseorang dengan iman atau kepercayaan eksistensinya .faktor kebudayaan mempunyai peran dalam perkembangan moral, yaitu pada tempo atau kecepatan perkembangannya. [1]




B.     Rumusan Masalah
Dalam  makalah  ini, penulis  memaparkan  beberapa  pokok-pokok  permasalahan  antara  lain:
1.                        Pengertian moral
2.                        Mengetahui ruang lingkup akhlak
3.                        Mengetahui perbedaan akhlak, moral dan etika

C.    Tujuan
Adapun Tujuan diadakannya penulisan ini adalah sebagai berikut :
1 . untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan agama
2. kita dapat mengetahui pengertian tentang moral
3. kita dapat mengetahui bagaimana pembelajaran moral berpijak pada karakteristik
4. kita dapat mengetahui konsep dasar moral dan penalaran moral









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar Moral Dan Penalaran Moral
kata moralitas  berasal dari kata mores (bahasa latin) yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat (Pratidarmanastiti,1991).Dewey mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai susila (Grinder,1978).sedangkan baron dkk.(1980) mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan moral salah atau benar.Oleh magnis-suseno (1987)dikatakan bahwa kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang.menurut magnis-suseno, sikap moral yang sebenrrnya disebut moralita.ia mengartikan moralitas sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas terjadi apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. Hanya moralitaslah yang bernilai secara moral (magnis-suseno,1987).
Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada prilaku moral, artinya apa yang dilakukan seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya. Ia menjadikan penalaran moral sebagai pusat kajiannya. Dikatakannya bahwa mengamati prilaku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral. Seorang dewasa dengan seorang anak kecil barangkali prilakunya sama, tetapi seandainya kematangan moral mereka berbeda, tidak akan tercermin dalam prilaku mereka.
Penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan,sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk .kolbergn juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) orang tentang apakah tindakan tertentu itu benar atau salah. Alasannya, seorang dewasa dengan seorang anak kecil mungkin akan mengatakan sesuatu yang sama, maka disini tidak tampak adanya erbedaan antara keduanya. Apa yang berbeda dalam kematangan moral adalah pada penalaran yang diberikannya terhadap sesuatu hal ang benar atau salah.
Penalaran moral dipandang sebagai suatu struktur pemikiran bukan isi.dengan demikian penalaran moral bukanlah tentang apa yang baik atau yang buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk. Penalaran-penalaran moral inilah yang ,menjadi. Indicator dari tingkatan atau tahapan kematangan moral. Memperhatikan penalaran mengapa suatu tindakan salah, akan lebih memberi penjelasan daripada memperhatikan tindakan (prilaku) seseorang atau bahkan mendengar pernyatan bahwa sesuatu itu salah
Jika penalaran moral dilihat sebagai isi, maka sesuatu dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial budaya tertentu, sehingga sifatnya akan sangat relative. Tetapi jika penalaran moral dilihat sebagai struktur, maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan penalaran moral seorang anak dengan orang dwasa, dan hal ini dapat diidentifikasi tingkatan perkembangan moralnya (Kohlberg dalam cremers, 1995c)
Kematangan moral  menuntut penalaran-penalaran yang matang pula dalam arti moral. Sesuatu keputusan bahwa sesuatu itu baik barangkali dianggap tepat, tetapi keputusan itu baru disebut matang bila dibentuk oleh suatu proses penalaran yang matang. Oleh sebab itu tujuan dari pendidikan moral adalah sesuatu yang harus dikembangkan, maka seharusnya para guru dan pendidik moral mengetahui proses perkembangan dan cara-cara membantu perkembangan moral tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, penulis berpendapat bahwa penalaran moral pada intinya bersifat rasional. Suatu keputusan moral bukanlah soal perasaan atau nilai , melankan selalu mengandung tafsiran kongnitif yang bersifat konstruksi kongnitif yang aktif dengan memperhatikan tuntutan, hak, kewajiban, dan keterlibatan individu atau kelompok terhadap hal-hal yang baik. [2]




B.     Tahap-tahap perkembangan penalaran moral
Melalui hasil penelitiannya Kohlberg (1980b) menyatakan hal-hal sebagai berikut :
1.Ada perinsip-perinsip moral dasar yang mengatasi nilai-nilai moral lainnya dan prinsip-prinsip moral dasar itu merupakan akar dari nilai-nilai moral lainnya
2.Manusia tetap merupakan subjek yang bebasdengan nilai-nilai yang berasal dari dirinya sendiri.
3.Dalam bidang penalaranada tahapan-tahap perkembangan yang sama dan universal bagi setiap kebudayaan.
4.Tahap-tahap perkembangan penalaran moral ini banyak ditentukan oleh factor kongnitif atau kematangan intelektual.
Kesimpulan ini di tarik dari penelitiannya dengan instrumen yang disebut sebagai “Dilemma Moral Hienz”,yaitu sebuah kasus yang merangsang responden untuk memeberikan keputusan-keputusan moral.
Bagi Kohlberg sendiri, Dilemma Heinz mengandung nilai universal. Terhadap nilai universal ini penalaran moral responden diukur. Dari pola-pola jawaban responden,Kohlberg menemukan apa yang disebutnya Tahap-Tahap Perkembangan Penalaran Moral. Tahap-tahap tersebut dibagi menjadi 3 tingkatan dan masing-masing tingkat dibagi lagi menjadi 2 tahap.
Menurut Kohlberg (1977)  tahap perkembangan penalaran moral sebenarnya telah dipostulatkan pada pemikiran Dewey, yang memandang perkembangan moral ke dalam 3 tingkat yaitu: (1)  tingkat pra-moral atau pre-conventional,(2) tingkat conventional,dan (3) tingkat autonomous. Pemikiran Dewey dikembangkan lebih lanjut oleh Piaget dengan menetapkan 3 tahap perkembangan moral yang diikuti dengan ketentuan umur yaitu : (1) tahap pra-moral,yaitu anak yang berumur dibawah 4 tahun,(2) tahap heteronomous, yaitu anak yang berumur 4-8 tahun, dan (3) tahap otonomous, yaitu anak yang berumur 9-12 tahun. [3]
Tahap-tahap perkembangan penalaran moral tidak dapat berbalik (irreversible) yaitu bahwa suatu tahapan yang telah di capai oleh seseorang tidak mungkin kembali mundur ketahapan dibawahnya. Misalnya,sesorang yang telah berada pada tahap 5  tidak akn kembali pada tahap 3 atau tahap 4. Tendensi gerakan umum,proses perkembangan penalaran moral cukup jelas,yaitu gerak maju dari tahap 1 sampai tahap 6, dan gerak maju itu bersifat proses diverensiansi dan intregrasi yang semakin tinggi dan menghasilkan pula eningkatan dalam hal universal. Dewey berpendapat bahwa proses perkembangan dan pertumbuhanlah yang merupakan tujuan universal pendidikan moral.
C.    karakteristik individu berhubungan dengan pemahaman/penalaran moral
Bila dilihat dari unsure pemahaman moral, moral remaja di jawa cenderung berada ada tahap 3 yaitu  orientasi kerukunan atau orientasi good boy-nice girl. Remaja cenderung berpandangan bahwa tingkah laku yang baik adalah yang menyenangkan atau menolong orang lain serta di akui orang lain. Mereka cendrung bertidak menurut harapan-harapan lingkungan sosialnya, hingga mendapat pengakuan sebagai “anak yang baik”. Tujuan utamanya, demi hubungan sosial yang memuaskan, maka ia pun harus berperan sesuai dengan harapan-harapan keluarga, masyarakat atau bangsanya. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri tahap 3 perkembangan penalaran moral yang dikemukakan oleh Kohlberg (1984).
Kecenderungan seperti pada tahap 3 inilah yang sering di upayakan oleh orang-orang dewasa dalam mendidikan anak. Masyarakat dan keluarga telah memiliki nilai-nilai yang harus diikuti generasi muda. Pendidikan moral yang selama ini dilakukan mengangap bahwa setiap orang dewasa dapat menjadi pendidik moral. Anak atau remaja dengan cara indoktrinasi dibawa menuju kepadapedewasaan seperti yang dikehendaki orang-orang dwasa. Tujuan pembelajaran jika meminjam taksonomi bloom tidak sampai pada aspek penalaran atau penilaian nilai-nilai yang dikehendaki orang dewasa,tetapi tidak memahami alasannya . Mereka dapat menghafalkan tetapi tidak mengerti maknanya. Cara ini tidak menghormati anak sebagai subjek moral, sehingga terbeentuk nilai-nilai moral heteronom.
Pendekatan structural kognitif yang dikemukakan olen Kohlberg lebih menaruih perhatian pada penalaran moral daripada tindakan moral, dengan asumsi bahwa pemikiran moral akan mengarahkan tidakan moral. Ia menganggap tahap-tahap yang lebih tinggi sebagai lebih bermoral dari pada tahap-tahap yang lebih rendah. Moralitas difinisikan lebih pada ciri formalnya sebuah pertimbangan moral atau suatu titik pandag moral, dari pada segi isinya .Baginya ada nilai moral universal yang menjadi tujuan setiap orang dalam perkembangan moralnya,dan struktur kognitif menjadi kekuatan dinamis untuk mencapai tahap yang lebih tinggi. [4]
D.    Karakteristik Individu Berhubungan Dengan Tindakan Moral
Perkembangan moral merupakan suatu hasil kemampuan yang semakin berkembang untuk memahami kenyataan sosial atau untuk menyusun dan mengintegrasikan pengalaman sosial,(Kohlberg,1980b cremers, 1995). Pengalaman sosial tersebut berupa jumlah dan keanekaragaman kesempatan untuk mengambil sejumlah peran dan untuk berjumpa dengan sudut pandang yang lain.
Prisip-prisip untuk menciptakan aturan dan membagi pearan (hak dan kewajiban) dalam lembaga apa saja,dari keluarga hingga pemerintah,merupakan prinsip keadilan dan kejujuran yang paling fundamental. Demikian juga,prisip demokrasi tidak hanya berfungsi baik,tetapi juga tirut merangsang proses perkembangan moral.    
Pembentukan otonomi moral sebagai pendidikan moral mensyaratkan adanya interaksi sosial. Pentingnya interaksi ini terletak pada kontinuitas, organisasi dan kompleksitas stimulasi sosial,dan kognitif yang dihadapkan pada remaja. Kelompok sosial yang secara intelektual miskn sifatnya lebih homogen yang di duga banyak diikuti oleh para remaja tidak akan memberikan motivasi bagi perkembangan moral,karena tidak aka nada konflik nilai yang menimbulkan kegoncangan equilibrium antara individu dengan masyarakatnya. Kelompok-kelompok sosial dengan bentuk-bentuk ikatan heteronom yang menganut pluralitas di bidang nilai seperti agama,suku,dan daerah, potensial bagi perkembangan moral. Perkembangan moral  mengarah kepada terciptanya equilibrium yang semakin besar dalam interaksi antara remaja dengan kelompok sosialnya yang berdasarkan keadilan.
Kesempatan untuk mengambil peransosial tampaknya merupakan suatu yang penting dalam perkembangan sosial tampaknya merupakan suatu yang penting dalam perkembangan moral. Anak-anak yang maju dalam perkembangan moral, memiliki orang tua yang juga maju dalam penalaran moral. Orang tua yang berusaha mengenal pandangan anak, dan yang mendorong terjadi dialog, mempunyai anak yang secara moral lebih matang
BAB III
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan ruang lingkup akhlak serta perbedaannya dengan moral dan etika
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluq, artinya tingkah laku, perangai, tabiat. Sedangkan menurut istilah,akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dengan spontan tanpa dipikir dan direnungkan lagi. Dengan demikian akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang secara sepontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila perbuatan spontan itu baik menurut akal dan agama, maka tindakan itu disebut akhlak yang baik atau akhlakul karimah. Sebaliknya apabila buruk disebut akhlak yang buruk atau akhlakul mazmumah. Baik dan buruk akhlak didasarkan kepada sumber nilai, yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul.
Disamping akhlak dikenal pula istilah moral dan etika. Seperti yang kita bahas di Bab 1 moral itu berasal dari bahasa latin mores yang berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.
Etika adalah sebuah tataan prilaku berdasarkan suatu system tata nilai suatu masyarakat  tertentu, etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk itu adalah akal manusia. Jika dibandingnkan dengan moral, maka etika lebih bersifat teoritis sedangkan moral  berrsifat praktis. Moral bersifat lokal atau khusus dan etika bersifat umum.
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk akhlak berdasarkan alqur’an dan sunnah rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat. Jika masyarakat menganggap suatu perbuatan baik, maka baik pulalah nilai perbuatan itu, dengan demikian standar akhlak bersifat universal dan abadi.
Dalam pandangan  islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena ituakhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. [5]
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
(Hadist riwayat Ahmad)
Secara unmum akhlak yang baik pada dasarnya adalah akumulasi dari aqidah dan syariat yang bersau secara utuh dalam diri seseorang. Dalam aqidah telah mendorong pelaksanaan syariat akan lahir akhlak yang baik,  atau dengan kata lain akhlak merupakan prilaku yang tampak apabila syariat islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah.
B.      Akhlak terhadap Allah, manusia dan lingkungan hidup
Menurut objek atau sasarannya terdapat akhlak terdapat akhlak terhadap Allah, akhlak kepada manusia dan akhlak kepada lingkungan.
1.                        Akhlak kepada Allah
a. Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allahuntuk menyembah-nya sesuai dengan perintahnya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah. Berakhlak kepada Allah dilakukan melalui media komunikasi yang telah disediakan, antara  lain ibadah shalat
b.                        Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati sebagaimana diungkapkan dalm firman Allah “ingatlah, dengan zikir kepada Allah akan menentramkan hati”.(ar-ra’d.13:2)
c. Berdoa kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Doa merupakan iinti ibadah, karena ia merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan doa dalam ajaran islam sangat luar biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu, berusaha dan berdoa merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim. Orang yang tidak pernah berdoa adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu dipandang sebagai orang yang sombong; suatu prilaku yang tidak disukai Allah
d.                        Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan
e. Tawaduk kepada Allah adalah rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah yng mahakuasa, oleh karenaitu tidak layak kaslau hidup dengan angkuh dn sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Nabi bersabda :
Sedekahtidak mengurangi hartadn Allah tidak menambah selain kehormatan pada seseorang yang memberi maaf. Dan tidak ada seseorang yang tawaaduk secara  ikhlas ksarena Allah, melsinkan dia dimuliakan Allah(hadist riwayat muslim dari abu hurairah)
Oleh karena itu tidak ada alasan bagi bagi manusia untuk tidak bertawaduk kepada Allah karena manusia diciptakan dari bahan yang hina nilainya, yaitu tanah.
2.                        Akhlak Kepada Manusia
a.                        Akhlak Kepada Diri Sendiri
1.                        Sabar adalah prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan ketika ditimpa musibah dari Allah.
Sabar melaksanakan perintah adalah sikap menerima dan melaksanakan perintah tanpa pilih-pilih dengan ikhlas. Sedangkan sabar dalm  menjauhi larangan Allah adalah berjuang mengendalikan diri untuk meninggalkan-nya.
2.                        Syukur adalah sikap berterimakasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bias terhitung banyaknya. Syukur dapat diungkapkan dalm bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan hamdalah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan menggunakan dan memenfatkan nikmat Allah sesuai dengan keharusanya
Tawaduk, yaitu rendah hati,  selalu menghargai siapa aja ang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin . sikap tawaduk lahir dari kesadarana akan hakikat dirinya sebagai manusia yang lemah dan seba terbatas yang tidak layak untuk bersikap sombong dan angkuh dimuka bumi, sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan ttidakmenyenangkan orang lain. [6]
b.                        Akhlak Kepada Ibu Bapak
Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat baik pada keduanya (birrul walidain) dengan ucapan dan perbuatan. Allah mewasiatkan agar manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapak.
Berbuat bai kepad ibu bapk dibuktikan dalam bentuk –bentuk perbuatan antara lain: menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perinntah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tik mmampu lagi berusaha.
Berbuat baik kepada orang tua tidak hanya ketika mereka hidup. Tetapi terus berlangsung walaupun mereka telah meninggal dunia cara mendoakan dan meminta ampunan untuk mereka, menepati janji mereka yang belum terpenuhi, meneruskan silaturahmi dengan sahabat-sahabat sewaktu mereka hidup.
c. Akhlak Terhadp Keluarga
Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkan kasih sayang diantara anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Komunikasi dalam keluarga yang diungkapkan dalam bentuk perhatian baik melalui kata-kata, isyarat-isyarat, maupun prilaku. Komuniasai yang didorong oleh rasa kasih sayangyang tulus akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Apabila kasih sayang  telah mendasari  komunikasi orang tua. Demikian sebaliknya, akan lahir kepercayaan orang tua pada anak. Oleh karena itu kasih saying harus menjadi muatan utama dalam komunikasi semua pihsk dalam keluarga.
Pendidikan yang ditanamkan dalam keluarga akan menjadi ukaran pertama bagi anak dalam menghadapi pengaruh yang datang kepada mereka diluar rumah. Dengan dibekali nilai-nilai dari rumah, anak dapat menjaring segala pengaruh yang datang kepadanya, sebaliknya anak-anak yang tidak dibekali nilai dari rumah, jiwanya kosong dan akan mudah sekali terpengaruh oleh lingkungan diluar rumah.
Nilai ensensial yang dididikan kepada anak didalam keluarga adalah aqidah, yaitu tentang keyakinan tentang eksistensi Allah. Apabila keyakinan terhadap Allah ini telah tertanam dalm diri anak sejak dari  rumah, maka, kemana pu ia pergi dan apa pun yang dilakukannya akan hati-hati dan waspada kerena selalu merasa diawasi oleh Allah.
3.      Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup
Misi agama islam adalah mengembangkan rahmatbukan hanya kepada manusia tetapi juaga kepada alam dan lingkuungan hidup. Misi tersebut tidak terlepas dari tujuan dianganya manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, yaitu sebagai wakil Allah yang bertugas mamakmurkan, mengella dan melestarikan alam berakhlak kepada lingkungan  hidup kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya.akibat akhlak yang buruk terhadap lingkungan dapat disaksikan dengan jelas bsgaimana hutan yang diekploitasi tanpa batas melahirkan malam petaka bagi manusia. [7]













Kesimpulan
Bahwa pendidikan akhlak, moral dan etika harus selalu di terapkan karena itu semua penting bagi kehidupan kita dan anak cucu kita , Apabila keyakinan terhadap Allah ini telah tertanam dalam diri anak sejak dari  kecil, maka pada saat anak tersebut sudah dewasa  kemana pun ia pergi dan apa pun yang dilakukannya akan hati-hati dan waspada kerena selalu merasa diawasi oleh Allah.


DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad daud, prof, S.H, Pendidikan Agama Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Perkasa,1998
Kasier, Abu al-Fida Ismail ibn, Tafsir al-Quran al-Adim, Beirut, Dar al-Fikr, 1389 H
Prof. Dr. Azyumardi Azra, Buku Teks Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum, 2002
Dr. C. Asri Budiningsih, Pembelajaran Moral, Jakarta,PT. Rineka Cipta, 2004


                                                                                                             







[1] Dr. C. Asri Budiningsih, Pembelajaran Moral th.mei 2004: h :  1-5
[2] Dr. C. Asri Budiningsih, Pembelajaran Moral
[3] Dr. C. Asri Budiningsih, Pembelajaran Moral th.mei 2004:h:24-27
[4] Dr. C. Asri Budiningsih, Pembelajaran Moral th. Mei 2004:h:24-27
[5]Prof. Dr.Azyumardi Azra, pendidikan agama islam pada perguruan tinggi umum th. September 2002:h:165
[6]Prof. Dr.Azyumardi Azra, pendidikan agama islam pada perguruan tinggi umum th. September 2002:h:165
[7]Prof. Dr.Azyumardi Azra, pendidikan agama islam pada perguruan tinggi umum th. September 2002:h:165-174